Jumat, 26 April 2019 | 17:17:03 WIB

Ketua Panwaslu Malaysia Bantah Jadi Relawan Prabowo-Sandi

Jum'at, 12 April 2019 | 14:03 WIB
Ketua Panwaslu Malaysia Bantah Jadi Relawan Prabowo-Sandi

Lokasi penemuan surat suara tercoblos di Malaysia diberi garis polisi. (FOTO: ANTARA/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Malaysia, Yaya Azzahra, membantah bagian dari relawan Prabowo-Sandi. Hal itu berdasarkan dugaan foto dirinya saat berpose salam dua jari.

"Weleh-weleh. Itu jelas bukan saya ya," kata Yaya, Jumat 12 April 2019.

Foto ia menghadiri acara Deklarasi Relawan GPS di Kuala Lumpur tersebar di media sosial. Foto tersebut terlihat seseorang yang mirip dengan Yaya Azzahra.

Saat dikonfirmasi, Yaya mengatakan foto mirip dirinya adalah orang lain bernama Idawati Murdaningrum. Idawati merupakan seorang relawan Prabowo-Sandi.

Sebelumnya, NasDem mencium praktik kotor dalam temuan surat suara tercoblos. NasDem melihat ada banyak kejanggalan. Terutama dari viralnya video yang menjadi sumber pertama kasus ini.

"Video yang viral soal suara yang tercoblos jika diamati sepintas adalah surat suara yang akan dikirim dengan pos," kata Ketua DPP Partai NasDem, Willy Aditya, beberapa waktu lalu.

Khusus pemilihan di luar negeri, ada tiga metode pemberian suara, yakni lewat tempat pemungutan suara (TPS), lewat kotak suara keliling, dan dikirim melalui pos memakai amplop dari domisili pemilih.

Menurutnya, ada keganjilan dalam video itu. Pertama, amplop yang ada belum terkirim ke alamat pemilih, tetapi sudah dicoblos. "Logikanya, jika amplop sampai ke tangan penerima, tentu akan muncul persoalan," katanya. Maklum, pemungutan suara di Malaysia baru akan dilakukan 14 April 2019.

Keganjilan lain, lanjut dia, adalah bagaimana mungkin surat suara dalam pengawasan PPLN, Panwas Luar Negeri, dan keamanan di kedubes bisa keluar dalam jumlah cukup besar. Dan surat suara itu disimpan di sebuah ruko kosong di luar wilayah yuridiksi kedutaan Indonesia.

"Keganjilan berikutnya adalah ruko kosong itu ditemukan seseorang lalu diviralkan," katanya.

Dari sejumlah keganjilan itu, Willy menyatakan sangat mungkin kejadian ini telah dirancang. "Sarat dengan kepentingan politik yang dimainkan oleh pihak-pihak yang takut kalah dengan menyebut bahwa ada kecurangan." ujarnya.

Fakta ini, lanjut dia, beriringan dengan fakta berbagai survei belakangan yang mengunggulkan pasangan Jokowi-Ma'ruf dibandingkan Prabowo-Sandi.

"Karena itu, NasDem mendorong Bawaslu dan kepolisian mengusut tuntas kasus ini. Apakah ini fakta atau rekayasa politik untuk mendelegitimasi pemilu," tegasnya.

NasDem juga mendorong agar kasus ini dibuka di hadapan hukum untuk memastikan pemilu berjalan dengan langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

"NasDem sepakat, jika kasus ini belum tuntas, pemungutan suara di Malaysia sebaiknya ditunda," jelas Willy.

Jika kasus itu masuk kategori pidana Pemilu, NasDem pun mendorong agar segera diusut tuntas. "NasDem mengimbau semua pihak untuk berhati-hati dengan skenario kotor (dirty operation) dari kasus ini. Sebab, kuat diduga ada yang main api untuk membakar rumah sendiri," pungkasnya.

MEDCOM

Berita Terkait