Jumat, 26 April 2019 | 17:16:35 WIB

Kubu Prabowo Akui Sengaja Membuat Narasi Kecurangan Pemilu

Jum'at, 12 April 2019 | 14:07 WIB
Kubu Prabowo Akui Sengaja Membuat Narasi Kecurangan Pemilu

Pendukung pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengikuti kampanye terbuka di Stadion Sriwedari, Solo, Jawa Tengah. (FOTO: ANTARA/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Narasi potensi terjadinya kecurangan pemilu selalu digaungkan oleh kubu pasangan calon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Narasi ini diakui bentuk peringatan kepada lembaga penyelenggara pemilu.

"Itu untuk meyakinkan kepada aparat kepada petugas untuk benar-benar bekerja dengan hasil dan jujur," kata Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Irfan Yusuf di Jakarta, Jumat 12 April 2019.

Cucu KH Hasyim Asyari pendiri Nahdhatul Ulama (NU) itu melihat akhir-akhir ini potensi kecurangan muncul. Narasi kecurangan yang selalu digaungkan semata hanya bentuk peringatan kepada aparat dan penyelenggara pemilu agar berlaku adil dan jujur.

"Kita memberi warning kepada petugas, pemerintah, KPU supaya benar-benar jujur dan adil. Intinya kita yakin kalau jujur dan adil siapa pun pemenangnya kita terima," tegas Gus Irfan, sapaan karibnya.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf, Johnny Plate menilai kubu 02 sedang panik. Peluang untuk menang menipis, tidak ada cara lain, selain terus menggencarkan seolah ada kecurangan masif di Pilpres 2019.

"Itu wujud dari kepanikan. Jangan panik ikuti proses demokrasi. Sudah ada undang-undangnya, sudah ada aturannya kalau memang ada yang dirasakan dirugikan dalam penyelenggaraannya ikut aturan undang-undang," tegas Plate.

Sebagai peserta pemilu, semestinya kubu 02 turut bertanggung jawab menjaga legitimasi penyelengara pemilu. Legitimasi kepada KPU akan menghasilkan pemimpin pilihan rakyat sesuai dengan amanat konstitusi.

"Penyelenggara pemilu sudah bekerja sungguh-sungguh bersama-sama kita jaga kualitasnya dilaksanakan menghasilkan pemimpin yang juga disukai oleh rakyat," kata Plate.

Ancaman kepada lembaga penyelenggara pemilu bukan ciri berdemokrasi. Hal itu mencerminkan calon pemimpin yang otoriter yang tak cocok di era demokrasi seperti saat ini.

"Jangan ancam mengancam kalau ancaman begitu otoritarian mindset. Itu tidak cocok di era demokrasi sekarang," tandasnya.

MEDCOM

Berita Terkait