Selasa, 25 Juni 2019 | 21:22:58 WIB

Persoalan Surat Suara Tercoblos Dipastikan Tuntas

Jum'at, 12 April 2019 | 14:12 WIB
Persoalan Surat Suara Tercoblos Dipastikan Tuntas

Komisioner KPU Hasyim Asyari menjawab pertanyaan wartawan di Jakarta. (FOTO: MEDCOM/LINDO)

akarta: Komisi Pemilihan Umum (KPU) masih mendalami kasus dugaan surat suara tercoblos di Selangor, Malaysia. KPU berjanji menyelesaikan permasalahan ini maksimal Sabtu, 13 April 2019.

"Sebisa mungkin sebelum tanggal 14 April, maksimal tanggal 13 April itu sudah ada sikap dari KPU dan Bawaslu tentang peristiwa ini," kata Komisioner KPU Hasyim Asyari di Gedung Bawaslu, Kamis, 11 April 2019.

Hasyim mengatakan kasus ini harus segera diselesaikan karena pemungutan suara metode TPSLN di Malaysia dilaksanakan 14 April. KPU dan Bawaslu sudah menerjunkan tim langsung ke Malaysia.

Hasyim bersama rekannya, Ilham Saputra serta Anggota Bawaslu, Ratna Dewi Pettalolo telah berangkat ke Malaysia pagi tadi. Hasyim meminta semua pihak tak menarik kesimpulan sebelum seluruh fakta temuan ini terbuka.

KPU, terang Hasyim, baru menerioma informasi sebatas rekaman video dan keterangan Panitia Pengawas Luar Negeri (Panwaslu) Kuala Lumpur. Dia mengatakan KPU butuh untuk mengklarifikasi sejumlah hal, karena Hasyim menemukan sejumlah kejanggalan dalam rekaman video yang viral.

Dalam video yang beredar ke publik, surat suara tercoblos itu berarda di dalam karung plastik dalam sebuah ruangan yang begitu mudah dimasuki orang. Bagi Hasyim, apa yang terekam dalam video itu janggal lantaran seharusnya surat suara disimpan dengan standar pengamanan tertentu.

"Itu jadi pertanyaan ini kok (surat suara tercoblos) ada di dalam karung? Kok orang luar begitu mudah masuk ke situ, buka-buka kantong? kemudian buka barang-baramg cetakan itu? Ini bagaimana ceritanya bisa begni, ini butuh klarifikasi di lapangan," tegas Hasyim.

Kronologi Kejadian

Kasus temuan tercoblosnya surat suara bermula dari laporan relawan Sekretaris Bersama Satuan Tugas Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi (Satgas BPN PADI), Parlaungan, pada 11 April 2019 pukul 12.48 waktu Malaysia. Ia mengadukan temuan itu melalui pesan Whatsapp kepada Ketua Panwaslu Kuala Lumpur Yaza Azzahara Ulyana.

Yaza lantas mengajak Anggota Panwaslu Kuala Lumpur, Rizki Israeni Nur, menuju ke lokasi. Pukul 13.00, Yaza dan Rizki tiba di lokasi yang beralamat di Taman Universiti Sungai Tangkas Bangi 43000 Kajang, Selangor.

Lokasi itu merupakan lot toko. Di dalamnya terdapat 20 buah tas diplomatik, 10 kantong plastik hitam, dan sekitar 5 karung goni putih dengan tulisan Pos Malaysia. Kantong-kantong itu disebut berisi surat suara.

Yaza lantas mencoba membuka kantong secara acak. Ditemukan surat suara tercoblos untuk pasangan nomor urut 01, Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Untuk surat suara anggota legislatif, tercoblos di kolom Partai NasDem pada caleg nomor urut 3.

Selang beberapa jam, Panwaslu Kuala Lumpur kembali menerima informasi dari anggota Satgas BPN PADI. Mereka menyebut ada kasus yang sama di sebuah rumah di kawasan Bandar Baru Bangi, Selangor. Sekitar 15 menit dari lokasi pertama.

Di lokasi kedua itu, Panwaslu menemukan 158 karung dengan isi surat suara sekitar 230 lembar per karungnya. Kali ini surat suara yang tercoblos yaitu untuk capres 01 dan caleg NasDem nomor urut 2. Terdapat juga lembar surat suara tercoblos untuk caleg Demokrat nomor urut 3.

"Total jumlah di dua lokasi tersebut berjumlah 40-50 ribu surat suara," kata Yaza.

NasDem Mencium Praktik Kotor

Menanggapi temuan surat suara tercoblos ini, NasDem melihat ada banyak kejanggalan. Terutama dari viralnya video yang menjadi sumber pertama kasus ini.

"Video yang viral soal suara yang tercoblos jika diamati sepintas adalah surat suara yang akan dikirim dengan pos," kata Ketua DPP Partai NasDem, Willy Aditya.

Khusus pemilihan di luar negeri, ada tiga metode pemberian suara, yakni lewat tempat pemungutan suara (TPS), lewat kotak suara keliling, dan dikirim melalui pos memakai amplop dari domisili pemilih.

Menurutnya, ada keganjilan dalam video itu. Pertama, amplop yang ada belum terkirim ke alamat pemilih, tetapi sudah dicoblos. "Logikanya, jika amplop sampai ke tangan penerima, tentu akan muncul persoalan," katanya. Maklum, pemungutan suara di Malaysia baru akan dilakukan 14 April 2019.

MEDCOM

Berita Terkait