Rabu, 24 Juli 2019 | 14:03:32 WIB

Pasca Pemilu, PK Hamas Universitas Serang Raya Gelar Kajian Menanti Senja

Jum'at, 26 April 2019 | 21:59 WIB
Pasca Pemilu, PK Hamas Universitas Serang Raya Gelar Kajian Menanti Senja

(FOTO : UNSERA/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Himpunan Mahasiswa Serang (Hamas) melalui PK Hamas Universitas Serang Raya (Unsera), kembali menggelar Kajian Menanti Senja (Kamisan), yang kali ini digelar di Restoran Gama Food, Kota Serang, Banten, Kamis (25/4).

Diskusi yang mengusung tema ‘Peran Mahasiswa Menjaga Legitimasi Pemilu 2019”ini, diikuti sekira 50 mahasiswa dari Unsera dan Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin. Hadir sebagai narasumber dalam diskusi kali ini, yakni Embay Mulya Syarief (tokoh pendiri Provinsi Banten), Kepala Subbag Poldagri Kesbangpol Kabupaten Serang Dikdik Abdul Hamid, serta Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Unsera Liza Diniarizky Putri.

Sebagai pembicara pertama, Embay mengajak mahasiswa yang hadir untuk menyerahkan masalah Pemilu kepada lembaga-lembaga yang berwenang sesuai Undang-Undang.  Ia pun mengajak masyarakat untuk menghormati apapun hasil Pemilu yang nantinya akan ditetapkan oleh Pleno Komisi Pemilihan Umum( KPU).

“Untuk itu, mahasiswa sebagai kaum intelektual harus turut menjaga proses dan hasil Pemilu 2019, mencegah aksi-aksi yang inkonstitusional, ikut menjaga legitimasi produk Pemilu 2019, serta ikut memerangi hoax,” ujar Embay.

Pria yang pernah bertarung dalam Pilkada Banten 2017 lalu bersama Rano Karno ini, menambahkan, semua Warga Negara Indonesia (WNI) harus menghormati dan menghargai penyelenggara Pemilu.

“Mari kita jaga legitimasi lembaga penyelenggara Pemilu. Semoga, apa yang terjadi dalam Pemilu kali ini bisa menjadi masukan dan pembelajaran untuk pelaksanaan kedepannya,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Subbag Poldagri Kesbangpol Kabupaten Serang Dikdik Abdul Hamid Dikdik dalam kesempatan ini, mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk mempercayai penyelengagra pemilu, serta mekanisme yang ada sesuai dengan Undang-Undang (UU) yang berlaku.

“Kita tidak boleh berprasangka buruk terhadap KPU, karena KPU juga memiliki keterbatasan. Saya melihat sendiri, input data dalam Pemilu 2019 ini bukan hal yang mudah. Karena itu, mahasiswa sebagai generasi muda harus ikut mendukung dan mengawal penyelenggaraan Pemilu sampai dengan pengumuman nanti. Mahasiswa harus ikut menyatukan polarisasi masyarakat paska Pemilu,” tandasnya.

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Unsera Liza Diniarizky Putri menyampaikan, sebagai agent of change, social controller dan iron stock, mahasiswa yang menggelar diskusi seperti ini, patut diapresiasi. Terlebih, mahasiswa adalah makhluk yang merdeka, tidak memiliki beban sejarah masa lalu.

“Mahasiswa harus bisa berdiri di tengah-tengah masyarakat, menjadi pemersatu masyarakat. Kajian-kajian sepert ini sangat baik untuk menambah wawasan mahasiswa, dan disebarluaskan ke khalayak ramai agar menyejukkan dan damai,” ujar Liza. (ARMAN R)

Berita Terkait