Rabu, 22 Mei 2019 | 00:13:04 WIB

Komita Aksi May Day 2019 Kota Ternate Menggelar Aksi Memperingati Hari Buruh Internasional

Rabu, 1 Mei 2019 | 20:18 WIB
Komita Aksi May Day 2019 Kota Ternate Menggelar Aksi Memperingati Hari Buruh Internasional

Foto: AULIYA/LINDO

TERNATE, LINDO - Ratusan mahasiswa dari organisasi, aliansi, dan front yang tergabung dalam Komite Aksi May Day 2019, yakni Serikat Kebudayaan Masyarakat Indonesia (SeBUMI) MALUT, Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), Stady Fala, Komunitas Mahasiswa Papua (KMP), KOPRI PMII, Central Gerakan Mahasiswa Demokratik (CGMD), Falasani, FNKSDA, KP-IWD, SEKBER, Pusat Perjuangan Mahasiswa Untuk Pembebasan Nasional (PEMBEBASAN), SRIKANDI, GATUDA, Gerakan Bintang Utara (GBU), KOMITMEN, Partai Pembebasan Rakyat (PPR), PUNK, Solidaritas Untuk Perjuangan Rakyat (SUPER), KPOP, KPR dan individu yang Pro-demokrasi. Hari ini mengelar aksi memperingati hari buru Internasional atau May Day, di beberapa titik, depan Dodokuali Kelurahan salero, depan Pasar Barito Bahari Berkesan, dan taman Nukilan kota Ternate, Rabu 01/05/2019.

 

Sejarah Hari Buruh lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis ekonomi-politik, terutama di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja.

 

Hari buru Internasional atau may day adalah momentum bersejarah bagi kaum buruh, momentum ini kaum buruh identik dengan demonstrasi atau aksi turuk ke jalan menuntut kesejahteraannya.

 

Hari ini tepat pada 1 Mei 2019 Komite Aksi May Day 2019 kembali Menggelar aksi memperingati hari bersejarah bagi kaum buruh, untuk menyuarakan hak-hak kaum buru yang selama ini masih di kekang oleh sistem kapitalis yang mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) 78/2015 tentang pengupahan.

 

Aksi yang di mulai sekita pukul 12:00 Wit, di depan dodokuali sambil long march menuju Ke pasar barito bahari berkesan dengan membawa bendera masing-masing organusasi yang tergabung dalam komite aksi may day, dan sepanduk sama poster.

 

Masa aksi yang tergabung dalam komite aksi may day 2019 kurang lebih 100 orang yang di koordinatori oleh Rudy Pravda. Hari ini turung Ke jalan memperingati Hari buruh international dengan tuntutan kurang lebih 39 tuntutan yakni. Naikan upah buruh 100%, hapus PP NO 78/2015 tentang pengupahan, hapus sistem kerja out sourcing kontrak dan magang, kurangi jam kerja 6 jam/Hari, cuti haid dan melahirkan selama 14 bulan, perlindungan sejati bagi buruh migran stop hukum mati, laksanakan konvensi buruh migran, adili pelaku pelangar HAM (1965-1998), stop pelangaran HAM di Papua, cuti haid Tampa syarat untuk buruh perempuan, cabut UU NO. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS dan UU NO. 12 Tahun 2012 tenteng pendidikan tinggi, cabut UU ormas, sahkan RUU Penghapusan kekerasan seksual (PKS), menolak diskriminasi rasial dan seks, tolak RUU DWI fungsi TNI, stop diskriminasi dan stigma buruk masyarakat bertato, tolak pemekaran provinsi Papua tengah, tutup Freeport dan segala pertambangan di Papua, lawan liberalisasi sektor pendidikan, hapuskan program bela negar di kampus, stop pembungkaman demokrasi dan hapuskan menwa, pendidikan dan kesehatan gratis, jadikan kampus sebagai tempat konsolidasi, tolak penggusuran di kampung makasar Timur kota ternate, lingkungan yang ramah untuk manusia dan lawan kapitalisme perusak lingkungan, tolak pertambangan kelapa sawit di maluku utara, revisi UU ketenagakerjaan No 13 Tahun 2013, stop intimidasi dan kriminalisasi aktivis lingkungan, naikan harga kopra Rp. 20.000/Kg, nasionalisasi aset-aset vital dibawah kontrol rakyat, land reform tanah untuk rakyat, wujudkan sistem pertanian yang pro terhadap lingkungan, tolak pembangunan pembangkit listrik tenagah uap (PLTU) di maluku utara, hentikan reklamasi pantai di maluku utara, cabut izin usaha pertambangan dan tutup PT. KSO serta kembalikan 2000 hektar tanah petani galela Tampa syarat, buka ruang demokrasi kaum miskin kota desa petani nelayan buruh dan mahasiswa, wujudkan jaminan sosial bagi seluruh rakyat.

 

Aksi yang berlangsung di depan Pasar barito bahari berkesan selama 3 jam, koordinator kasi Rudy Pravda menyampaikan orasi politik menyoroti terkait dengan berbagai persoalan sosial maysarakat yang terjadi di Negara Kesatuan Repoblik Indonesia, dan juga persoalan buruh terkait dengan kesejahteraan yang selama bertahu-tahun masi di kekang oleh sistem kapitalisme yang bergandeng tangan dengan elit-elit borjuasi beserta partai-partai politik yang anti terhadap demokrasi rakyat miskin, begitu juga dengan pemerintahan Indonesia yang hanya berpihak kepada pemodal asking baik Jepang, Cina, Eropa dan Amerika Serikat sehingga penanaman infestasi asing terjadi di mana-mana baik di seluruh Indonesia dan khususnya maluku utara sehinga membuat perampasan ruang hidup manusia, pengusuran lahan petani dan reklamasi pantai semakin masif di negara ini.

 

Koordinator aksi Rudy Pravda saat di wancarai di lapangan terkait dengan aksi may day hari ini. Rudy menjelaskan Aksi MayDay yang kami lakukan pada hari ini, (1/5/19) kota Ternate, rute: Dodokuali, Pasar Barito dan Taman Nukila, dengan tema: Bangun Konsolidasi Gerakan Rakyat: Lawan Kapitalisme, Imperealisme dan Militerisme oleh Komite MayDay Kota Ternate Untuk Hari Buruh Internasional (didalamnya 20 organisasi) baik komunitas, organisasi lokal, organisasi nasional, menyerukan 39 tuntutan menyoal buruh dan sektor rakyat lainnya.

 

Rudy Pravda juga menambahkan harapannya, komite ini juga bisa mewujudkan pembangunan aliansi/front persatuan yang demokratik, mandiri, bersih, dan berbasis kerakyatan. Mewujudkan tuntutan rakyat sambil tak lepas untuk mengintegarasikan diri mengorganisir buruh dan lapisan rakyt lainnya untuk tergabung dalam aliansi front, mengingat gerakan di maluku utara masih sektarian dan fragmentatif, bahkan Terutama soal politik alternatif sebagai tahap awal komite ini harus bisa semakin bersatu dalam pembangun platfrom termasuk juga memikirkan pengorganisiran rakyat dan buruh, ini penting dan tugas mendesak kita hari ini, tak luput bisa bersatu dengan rakyat Papua, kawan-kawan Papua mengupayakan mendorong tuntutan mereka.

 

Rudy Pravda juga menegaskan Kelak 39 tuntutan hari ini seharusnya bisa di perhatikan oleh pemerintah pusat dan juga daerah,dan sehrusnya pemerintah daerah meliburkan buruh bila ada momen mayday nanti di ternate, agar buruh bisa meluangkan waktu berbahagia, menjadi manusia bermartabat di lingkungan sosialnya.

 

AULIYA M. DJAE

Berita Terkait