Rabu, 11 Desember 2019 | 20:43:23 WIB

BNPB Akui Penanganan Gempa di Halmahera Terkendala Masalah Akses

Selasa, 16 Juli 2019 | 07:23 WIB
BNPB Akui Penanganan Gempa di Halmahera Terkendala Masalah Akses

Plh Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo memberikan pemaparan mengenai dampak dan penanganan darurat gempa bumi Halmahera saat konferensi pers di Jakarta. (FOTO: ANTARA/LINDO)

HALMAHERA SELATAN, LINDO - Proses penanganan korban gempa di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, terkendala akses jalan. Karena untuk mencapai ke lokasi, hanya bisa melalui jalur laut.

Ada dua rute yakni, Ternate - Sofifi dengan speed boat dan dilanjutkan dengan perjalanan darat Sofifi - Saketa. Kemudian, Ternate - Labuha dengan jalur udara, atau menggunakan Ferry dengan waktu 10 jam.

Masalahnya, jalur udara hanya ada flight terbatas yakni satu kali penerbangan setiap hari. Kemudian dari Labuha - Seketa, hanya bisa dengan spead boat selama lima jam.

"Akses jalan ke lokasi terdampak hanya melalui laut dikarenakan akses jalan darat masih belum terbangun," kata Plh Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo, Selasa (16/7/2019).

Masalah lainnya, hingga saat ini masih terasa beberapa kali gempa susulan. Kemudian, masyarakat sekitar pesisir pantai masih mengungsi ke wilayah yang lebih tinggi.

Masyarakat yang menjadi korban gempa berkekuatan 7,2 skala richter (SR) di Kabupaten Halmahera Selatan masih bertahan di lokasi pengungsian. Lebih dari 2.000 orang mengungsi di 14 titik pengungsian.

Sekda Kabupaten Halmahera Selatan, Helmi Surya Botutihe mengatakan, hingga saat ini warga masih berada di sejumlah titik pengungsian, salah satunya di tenda pengungsian di Kantor Bupati Halmahera Selatan.

"Warga belum kembali ke rumah, karena masih trauma akibat diguncang gempa bumi 7,2 SR pada Minggu sore kemarin," ujar dia.

BPBD bersama instansi terkait Senin pagi tadi menuju ke lokasi terdampak gempa untuk melakukan pendataan lebih lanjut dan menyalurkan bantuan logistik.

ALDY/INEWS

Berita Terkait