Rabu, 11 Desember 2019 | 21:05:14 WIB

BMKG Catat Ada 160 Rumah Roboh Pascagempa 7,2 SR di Halmahera Selatan

Selasa, 16 Juli 2019 | 07:45 WIB
BMKG Catat Ada 160 Rumah Roboh Pascagempa 7,2 SR di Halmahera Selatan

Rumah warga hancur karena terkena gempa yang berkekuatan 7,2 Skala Ricter. Pemrintah setempat menghimbau agar warganya menghindari bangunan yang retak atau rusak karena dikhawatirkan masih terjadi gempa susulan dengan kekuatan yang signifikan. (FOTO: MINEWS.ID/LINDO)

JAKARTA, LINDO – Ribuan warga masih mengungsi pascagempa berkekuatan 7,2 Skala Ricter (SR) di wilayah Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, yang terjadi Minggu (14/7/2019) pukul 16.10 WIB. Mereka memilih tinggal di tanah lapang lantaran getaran gempa masih kerap terjadi dan takut terjadi tsunami.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono mengatakan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa terjadi di Kecamatan Gane Barat Utara, Timur Selatan, Gane Timur Tengah, Gane Dalam, Gane Barat Selatan dan Kecamatan Gane Timur, Halmahera Selatan.

“Kami dapat laporan tiga orang meninggal dunia di Kelurahan Gane Luar, Kecamatan Gane Timur Selatan dan merobohkan sedikitnya 160 bangunan rumah. Hasil pemodelan menunjukkan gempa tidak berpotensi tsunami,” katanya di Jakarta, Selasa (16/7/2019).

Sementara itu, Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono mengimbau agar masyarakat di wilayah terdampak gempa menghindari bangunan yang retak atau rusak karena dikhawatirkan masih terjadi gempa susulan dengan kekuatan signifikan.

"Sebelum kembali ke dalam rumah, periksa dan pastikan ada atau tidaknya kerusakan atau keretakan pada tempat tinggal yang dapat membahayakan kestabilan bangunan," kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono di Jakarta.

Berdasarkan hasil monitoring BMKG, dari Senin (15/7/2019), pukul 21.00 WIB mencatat 61 kali gempa susulan (aftershock) dengan kekuatan terbesar 5,8 SR dan terkecil 3,1 SR. Dari jumlah itu, 28 gempa di antaranya terasa guncangannya oleh masyarakat.

Sesuai dengan peta tingkat guncangan (shake map) yang dikeluarkan BMKG, dalam waktu kuang dari 30 menit setelah gempa dapat diketahui bahwa gempa Halmahera Selatan berpotensi merusak.

Dalam peta shake map BMKG tampak zona gempa dan sekitarnya, guncangan mencapai warna kuning hingga kecokelatan yang artinya dampak gempa mencapai skala intensitas VII-VIII MMI. Intensitas gempa sebesar ini dapat berpotensi menyebabkan kerusakan dalam tingkat sedang hingga berat.

Dan hasil estimasi model ternyata benar. Karena berdasarkan laporan terbaru menunjukkan gempa yang terjadi itu menimbulkan banyak kerusakan bangunan rumah.

"Mengingat banyak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa, masyarakat kami imbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," tuturnya.

ALDY/INEWS

Berita Terkait