Selasa, 20 Agustus 2019 | 19:17:50 WIB

Rupiah Unjuk Gigi di Hadapan Dolar AS

Rabu, 7 Agustus 2019 | 21:38 WIB
Rupiah Unjuk Gigi di Hadapan Dolar AS

Ilustrasi - Petugas teler dari bank Mandiri sedang menghitung mata uang Indonesia Rp.100.000. (FOTO: MI/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Rabu pagi terpantau menguat tipis dibandingkan dengan perdagangan sore di hari sebelumnya di posisi Rp14.276 per USD. Meski menguat, tetap perlu diwaspadai potensi pembalikan arah sejalan dengan masih memanasnya tensi dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok.
 
Mengutip Bloomberg, Rabu, 7 Agustus 2019, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka menguat ke Rp14.265 per USD. Pagi ini nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp14.257 hingga Rp14.265 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.062 per USD.
 
Sementara itu, USD berbalik menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya di akhir perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB), di tengah penurunan mata uang safe haven termasuk yen Jepang dan franc Swiss, setelah bank sentral Tiongkok mengatakan tidak menggunakan mata uang sebagai alat menangani perselisihan dagang.

Indeks USD, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,12 persen menjadi 97,6393 pada akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro jatuh menjadi USD1,1200 dari USD1,1202 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,2152 dari USD1,2141 pada sesi sebelumnya.
 
Dolar Australia turun menjadi USD0,6756 dibandingkan dengan USD0,6760. Dolar AS dibeli pada 106,53 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 106,03 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,9768 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9736 franc Swiss, dan menguat menjadi 1,3279 dolar Kanada dari 1,3217 dolar Kanada.
 
Pasar valuta asing (valas) global beralih pada mode risk-off atau penghindaran risiko setelah ancaman AS memberlakukan tarif tambahan 10 persen pada barang-barang Tiongkok senilai USD300 miliar mulai 1 September. Pelabelan AS terhadap Tiongkok sebagai manipulator mata uang pun telah memicu pertentangan luas di komunitas keuangan global.
 
Pernyataan bank sentral Tiongkok, People's Bank of China (PBOC) yang mengatakan Tiongkok tidak akan menggunakan mata uang sebagai alat untuk menangani sengketa perdagangan, telah menenangkan pasar valas global, mengurangi permintaan untuk mata uang safe-haven termasuk yen Jepang dan franc Swiss.
 
Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average naik 311,78 poin atau 1,21 persen menjadi 26.029,52 poin. Indeks S&P 500 naik 37,03 poin atau 1,30 persen menjadi 2.881,77 poin. Indeks Komposit Nasdaq bertambah 107,23 poin atau 1,39 persen menjadi 7.833,27 poin.
 
Intervensi Tiongkok semalam datang setelah Departemen Keuangan AS menyebut Beijing sebagai manipulator mata uang karena membiarkan yuan merosot ke level terendah lebih dari satu dekade pada Senin 5 Agustus.
 
"Ini adalah sinyal dari pihak Tiongkok bahwa mereka ingin menjaga yuan tetap stabil dan meningkat. Tetapi ini juga menunjukkan seberapa cepat hal-hal dapat berubah. Itu menyerap nada di pasar, dan itu salah satu alasan masih ada rasa gentar," kata Kepala Strategi Pasar Prudential Financial Quincy Krosby di Newark, New Jersey.

MEDCOM

Berita Terkait