Selasa, 20 Agustus 2019 | 19:26:19 WIB

Komnas HAM Rampungkan Investigasi Kericuhan 22 Mei

Kamis, 8 Agustus 2019 | 10:58 WIB
Komnas HAM Rampungkan Investigasi Kericuhan 22 Mei

Suasana Asrama Brimob pascakerusuhan pada Rabu, 22 Mei 2019 dini hari. (FOTO: ANTARA/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) tengah merapungkan laporan investigasi peristiwa kericuhan 21-22 Mei. Laporan akan disampaikan pada pertengahan Agustus 2019.
 
"Saat ini masih finalisasi laporan, semoga pertengahan Agustus selesai dan bisa diumumkan ke publik," kata Komisioner Pendidikan dan Penyuluhan Komnas HAM Beka Ulung Hapsara dikutip Antara, Rabu, 7 Agustus 2019.
 
Beka menuturkan sejak akhir Juli, Komnas HAM bekerja keras menyelesaikan laporan tim pencari fakta Komnas HAM. Laporan tersebut akan diajukan ke sidang paripurna di Komnas HAM dengan komisi lain.

"Apakah disetujui atau tidak apakah perlu pendalaman lagi," ucap Beka.
 
Beka menjelaskan laporan tersebut berupa kesimpulan dari investigasi kericuhan. Laporan tersebut akan diberikan kepada kepolisian, presiden, DPR dan Dinas Kesehatan DKI Jakarta.
 
"Setelah ada kesimpulan, baru kami berikan rekomendasi," ujarnya.
 
Beka menuturkan Komnas HAM bekerja secara independen. Namun tetap dalam investigasi, pihaknya berkoordinasi dengan Polri dan lembaga terkait.
 
"Fokus Komnas HAM adalah bagaimana penegakan hukum terkait kericuhan berjalan dengan baik. Sehingga investigasi tidak terpengaruh dalang kerusuhan yang belum diketahui," imbuh Beka.

Sementara itu, Lima tersangka anak yang mendapat diversi terkait aksi 21-22 Mei di Bawaslu minta dibebaskan sebelum Iduladha. Kuasa hukum meminta surat resmi pembebasan dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
 
"Hakim sudah ngizinin tapi kan harus pakai surat, makannya sekarang kita urus agar adik-adik bisa bebas hari ini," ujar kuasa hukum kelima anak dari LBH Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PAHAM), Gita Aulia Putri,di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Bungur Besar, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 7 Agustus 2019.
 
Gita mengungkapkan batas penahanan kelima anak sejatinya sudah habis. Namun, dinas sosial bersedia membebaskan kelimanya jika ada surat resmi dari hakim.

Sebelumnya, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengabulkan permohonan diversi untuk tersangka anak-anak yang ditangkap dalam peristiwa kerusuhan pada 21 dan 22 Mei. Putusan dikeluarkan majelis hakim dalam sidang di PN Jakpus, Jalan Bungur Raya, Senin 5 Agustus 2019.
 
Gita mengatakan diversi diberikan karena tersangka masih berusia di bawah 18 tahun dan ancaman hukuman di bawah tujuh tahun.

MEDCOM

Berita Terkait