Selasa, 20 Agustus 2019 | 19:20:05 WIB

Dinamika Ekonomi Dunia Resahkan Industri Sawit

Kamis, 8 Agustus 2019 | 21:08 WIB
Dinamika Ekonomi Dunia Resahkan Industri Sawit

Ilustrasi - Para petani kelapa sawit sedang membongkar kelapa sawit di bak truk untuk diproduksi. (FOTO: MI/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Pasar minyak nabati dunia sedang mengalami dinamika. Salah satunya permintaan pasar ekspor tidak meningkat signifikan sehingga harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) ada pada kisaran yang rendah. Sementara itu, pertumbuhan daya serap pasar minyak sawit di dalam negeri juga tidak terlalu besar.
 
"Kinerja ekspor minyak sawit Indonesia tidak tumbuh secara maksimal karena ada beberapa dinamika di pasar global khususnya di negara tujuan utama ekspor Indonesia seperti India, Uni Eropa, Tiongkok, dan Amerika Serikat," ujar Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono, melalui keterangan resminya, Kamis, 8 Agustus 2019.
 
Di India, Indonesia kalah bersaing dengan Malaysia khususnya untuk refined products, dengan bea masuk refined products dari Indonesia lebih tinggi daripada Malaysia yang berselisih sembilan persen (tarif bea refined products dari Malaysia adalah 45 persen dari tarif berlaku 54 persen).

Sementara itu, kebijakan RED II ILUC dari Uni Eropa dan tuduhan subsidi biodiesel ke Indonesia sedikit banyak juga telah memengaruhi ekspor Indonesia ke negara tersebut. "Perang dagang Tiongkok dan Amerika Serikat juga telah memengaruhi pasar minyak nabati dunia," imbuhnya.
 
Semester pertama 2019 Kinerja ekspor minyak sawit Indonesia (CPO dan turunannya, biodiesel dan oleochemical) membukukan kenaikan hanya 10 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, atau dari 15,30 juta ton pada Januari-Juni 2018, menjadi 16,84 juta ton pada periode yang sama pada 2019.
 
"Kenaikan volume ekspor ini seharusnya masih bisa digenjot lebih tinggi lagi, akan tetapi karena beberapa hambatan dagang membuat kinerja ekspor tidak maksimal," ungkap Mukti.
 
Sementara itu volume ekspor khusus CPO dan turunannya saja (tidak termasuk biodiesel dan oleochemical) semester I-2019 hanya mampu terkerek 7,6 persen, atau dari 14,16 juta ton pada Januari-Juni 2018, naik menjadi 15,24 juta ton periode yang sama 2019.
 
Volume ekspor Indonesia khusus CPO dan turunannya pada semester pertama 2019 mengalami penurunan hampir di semua negara tujuan utama ekspor Indonesia kecuali Tiongkok. Semester I-2019, Tiongkok membukukan impor CPO dan turunannya (tidak termasuk biodiesel dan oleochemical) sebesar 39 persen, atau dari 1,82 juta ton periode Januari-Juni 2018.
 
"Meningkatnya permintaan dari Tiongkok merupakan salah satu dampak dari perang dagangnya dengan AS dengan Negeri Tirai Bambu ini mengurangi pembelian kedelai secara signifikan dan menggantikan beberapa kebutuhan dengan minyak sawit," urainya.
 
Sementara volume ekspor Indonesia khusus CPO dan turunannya pada semester pertama 2019 ke Uni Eropa mengalami stagnasi dengan kenaikan yang hanya mampu mencapai 0,7 persen saja, atau dari 2,39 juta periode Januari-Juni 2018, naik tipis menjadi 2,41 juta ton periode yang sama 2019.
 
Di lain sisi, volume ekspor Indonesia khusus CPO dan turunannya pada semester pertama 2019 ke India tersungkur 17 persen, atau dari 2,5 juta ton semester I-2018, turun menjadi 2,1 juta ton periode yang sama 2019. Penurunan juga diikuti oleh Amerika Serikat 12 persen, Pakistan 10 persen, dan Bangladesh 19 persen.

MEDCOM

Berita Terkait