Jumat, 13 Desember 2019 | 20:44:55 WIB

BI Akui Perang Dagang Masih Hantui Pertumbuhan Investasi RI

Senin, 12 Agustus 2019 | 18:37 WIB
BI Akui Perang Dagang Masih Hantui Pertumbuhan Investasi RI

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo saat menjawab pertanyaan wartawan di Jakarta. (FOTO: MEDCOM/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo mengakui gejolak ekonomi global imbas perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok turut menyeret pertumbuhan investasi RI di kuartal II-2019.
 
Indikator investasi yang terlihat dari Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB) di kuartal kedua tahun ini tercatat hanya tumbuh 5,01 persen atau lebih rendah ketimbang pertumbuhan di periode sama tahun lalu sebesar 5,85 persen.
 
"Memang kita tumbuh 5.01 persen. Kemarin hanya tumbuh privat 3,07 persen, separuhnya jadi tantangan kita," kata Dody usai mengisi seminar di kantor pusat BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin, 12 Agustus 2019.

Menurut Dody, tumbuh rendahnya investasi Indonesia lantaran permintaan global yang ikut melemah akibat gejolak ekonomi dunia. Alhasil, ekspor tak mampu mengakselerasi pertumbuhannya di kuartal II-2019.
 
"Jadi (ini) masalah di semua negara emerging market yang terkena dampak trade war, dampak volatilitas di pasar keuangan, serta melambatnya turunnya proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia di ekspor. Ini dialami di banyak negara emerging market termasuk Indonesia," jelas Dody.
 
Perlambatan ekspor berdampak pada berkurangnya permintaan produksi, otomatis investasi akan berkurang. Ujung-ujungnya, pendapatan devisa ekspor juga turut melorot.
 
"Kondisi ini menurunkan pendapatan yang berakhir kepada konsumsi yang tidak akan setinggi dari yang diperkirakan," ucap dia.
 
Permintaan domestik juga mengalami hal serupa karena kondisinya tak bisa lepas terhadap ekspor. Ke depannya, Dody berharap dorongan investasi tak hanya melalui kebijakan (policy).
 
Antisipasi pertumbuhan ekonomi global yang potensinya mengalami penurunan perlu dilakukan. Bank sentral punya solusi memperkuat sektor manufaktur unggulan, di antaranya tekstil, otomotif, dan alas kaki.
 
"Artinya semua negara akan tumbuh dan akan lebih baik dari tahun sebelumnya, cuma tidak optimal seperti yang seharusnya. Itu yang tercermin dari outlook pertumbuhan dunia dikoreksi ke bawah ke 3,2 persen," pungkas Dody.

MEDCOM

Berita Terkait