Minggu, 22 September 2019 | 19:54:13 WIB

Menhub Sebut MRT Bakal jadi Masa Depan di Ibu Kota Baru

Jum'at, 16 Agustus 2019 | 23:35 WIB
Menhub Sebut MRT Bakal jadi Masa Depan di Ibu Kota Baru

Moda Raya Terpadu atau MRT menjadi masa depan transportasi di ibu kota baru. (FOTO: MI/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan Moda Raya Terpadu atau MRT menjadi masa depan transportasi di ibu kota baru. Menteri yang akrab disapa BKS itu menuturkan, pembangunan MRT akan dilakukan secara bertahap.
 
"Masa depannya sama (seperti Jakarta), mesti MRT, karena angkutan massal adalah suatu keniscayaan di sebuah kota besar," ujarnya usai menghadiri konferensi pers nota keuangan di kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jumat, 16 Agustus 2019.
 
Sementara untuk pembangunan transportasi udara, Budi menuturkan baik di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, maupun Kalimantan Timur sudah memenuhi standar untuk pembangunan. Begitu juga untuk pelabuhan.

Presiden Joko Widodo sebelumnya telah memastikan ibu kota baru bakal dipindahkan ke Pulau Kalimantan. Namun, ia masih merahasiakan wilayah mana yang akan menggantikan DKI Jakarta.
 
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) memperkirakan anggaran yang diperlukan pemerintah untuk membangun infrastruktur ibu kota baru mencapai Rp466 triliun. Luasan lahan yang diperlukan mencapai 40 ribu hektare (ha).
 
Sekitar lima persen luas lahan atau 1.500 ha untuk perkantoran pemerintahan. Sebanyak 15 persen lahan dengan luas 4.500 ha untuk ekonomi. Selain itu, 20 persen atau 6.000 ha untuk sirkulasi dan infrastruktur.
 
Pemukiman akan menempati 12 ribu ha atau 40 persen lahan. Sementara itu, ruang terbuka hijau (RTH) bakal seluas 6.000 ha atau 20 persen lahan.
 
Pemindahan ini sama dengan konsep pemindahan ibu kota Malaysia di Kuala Lumpur ke daerah baru Putrajaya. Hal ini diperlukan karena beban Pulau Jawa sudah sangat berat. Pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan akan berdampak positif, seperti pertumbuhan ekonomi serta iklim investasi yang lebih luas.

MEDCOM

Berita Terkait