Senin, 23 September 2019 | 21:03:55 WIB

AJI Jakarta Kecam Intimidasi Polisi kepada Jurnalis

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 13:38 WIB
AJI Jakarta Kecam Intimidasi Polisi kepada Jurnalis

Ilustrasi - Kampanye stop kekerasan terhadap jurnalis. (FOTO: Mi/Manggal/LINDO)

akarta: Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Jakarta mengecam kekerasan dan intimidasi aparat kepolisian kepada sejumlah jurnalis.Mereka disebut mengalami kekerasan saat meliput demonstrasi di sekitar Gedung DPR/MPR, Jakarta Pusat, Jumat 16 Agustus 2019.
 
“Mengecam keras tindakan intimidasi dan kekerasan terhadap jurnalis yang meliput pengunjuk rasa di kawasan Gedung DPR/MPR,” kata Ketua AJI Jakarta Asnil Bambani dalam keterangan tertulis.
 
Asnil menceritakan peristiwa itu terjadi saat pengunjuk rasa yang diamankan di Gedung TVRI digiring ke mobil tahanan polisi. Sejumlah reporter dan fotografer kemudian mengambil gambar foto dan video.

Salah satu jurnalis SCTV, Haris dipukul di bagian tangan saat merekam video melalui ponselnya. Sebelumnya, dia dilarang dan dimarahi ketika merekam menggunakan kamera televisi.
 
"Kamu jangan macam-macam, saya bawa kamu sekalian," kata Haris menirukan ucapan polisi.
 
Haris mengaku telah menjelaskan pada polisi bahwa dirinya wartawan. Namun polisi tak menghiraukan. Pelaku pemukulan mengenakan baju putih dan celana krem diduga dari satuan Resmob. Beberapa polisi yang berjaga diketahui berasal dari Polres Jakpus.
 
Sementara itu jurnalis foto Bisnis Indonesia, Nurul Hidayat dipaksa menghapus foto hasil jepretannya. Menurutnya, pelaku mengenakan pakaian bebas serba hitam, berambut agak panjang, dan ada tindikan di kuping.
 
Fotografer Jawa Pos Miftahulhayat juga terpaksa menghapus foto. Dia diancam akan dibawa polisi bersama para demonstran yang diangkut ke mobil.
 
Korban lainnya, jurnalis Vivanews, Syaifullah mengalami intimidasi serupa untuk menghapus rekaman video miliknya. Dia juga diancam akan diangkut ke mobil polisi.
 
Reporter Inews, Armalina dan dua kameramen juga mengalami intimidasi oleh oknum aparat berbaju putih. Salah seorang petugas bahkan berteriak, "Jangan mentang-mentang kalian wartawan ya!".
 
Salah seorang wartawan media online ditarik bajunya dan dipaksa menghapus foto. Melihat kejadian itu, kru Inews tidak berani melawan kesewenangan aparat dan terpaksa menghapus videonya.
 
Kasus kekerasan terhadap jurnalis bukan kali ini saja terjadi. Tindakan melanggar hukum yang dilakukan aparat penegak hukum bukan hanya mencederai kebebasan pers, tapi juga mempermalukan institusi Polri di hadapan publik.
 
AJI Jakarta, kata Asnil, mendesak aparat kepolisian menghentikan intimidasi dan kekerasan tersebut. Sebab, hal itu melanggar UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
 
Pasal 8 UU Pers menyatakan dalam menjalankan profesinya jurnalis mendapat perlindungan hukum. Merujuk pada KUHP dan Pasal 18 UU Pers, pelaku kekerasan terancam hukuman dua tahun penjara atau denda Rp500 juta.
 
“Mendesak aparat kepolisian menangkap pelaku hingga diadili agar mendapat hukuman seberat-beratnya, sehingga kasus serupa tidak terulang kembali,” ujar Asnil.
 
Dia menyebut kasus kekerasan jurnalis oleh aparat kepolisian juga bertentangan dengan Nota Kesepahaman antara Dewan Pers dengan Polri Nomor 2/DP/MoU/II/2017. Pasal 4 ayat 1. Kesepakatan itu menyebutkan para pihak berkoordinasi terkait perlindungan kemerdekaan pers dalam pelaksanaan tugas di bidang pers sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
 
"Kami mendesak aparat kepolisian menghentikan kasus kekerasan dan intimidasi terhadap jurnalis serta mengusut tuntas kasus ini," tegasnya.
 
Selain itu, AJI Jakarta juga meminta para pemimpin redaksi secara aktif melaporkan kasus kekerasan yang dialami jurnalisnya ke pihak kepolisian.
 
"Kami meminta para pemimpin masing-masing media untuk melaporkan kekerasan dan intimidasi yang dialami jurnalis tersebut ke Propam Mabes Polri terkait pelanggaran etik dan ke Polda Metro Jaya untuk proses hukum," pungkas Asnil.

MEDCOM

Berita Terkait