Senin, 23 September 2019 | 21:12:56 WIB

Perhimpunan INTI DKI Jakarta Gelar Seminar Kebangkitan Tiongkok, Obor, Dan Implikasinya Terhadap Indonesia  

Minggu, 18 Agustus 2019 | 00:04 WIB
Perhimpunan INTI DKI Jakarta Gelar Seminar Kebangkitan Tiongkok, Obor, Dan Implikasinya Terhadap Indonesia  

(FOTO : ARMAN/LINDO)

JAKARTA, LINDO – Pengurus Daerah Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) DKI Jakarta menggelar Seminar Kebangkitan Tiongkok, Obor, dan implikasinya terhadap Indonesia, yang diadakan di MGK Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (17/8).

Dalam seminar tersebut menghadirkan pembicara Prof Anwar Nasution, PhD (Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia), Dr Drs Krisno Legowo, MSi (Pengajar Di sekolah Tinggi Intelijen Negara), Johanes Herlijanto. M.Si, Ph.D (Pengajar Universitas Pelita Harapan) dan dr. Indra Wahidin (Ketua Harian Perhimpunan INTI) serta pembukaan seminar oleh Prof A Dahana PhD (Guru Besar Chinese Studies , Universitas Indonesia)

Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia Prof Anwar Nasution, PhD dalam paparannya mengatakan, dewasa ini negara Tionghoa telah mengintrodusir enam jenis kebijakan strategis dibidang ekonomi, politik, dan keamanan yang akan mempengaruhi system ekonomi, keuangan, politik, keamanan regional dan internasional.

Menurutnya, kebijakan itu mencerminkan kesiapan negara itu untuk mengambil peranan yang lebih besar dalam kepemimpinan poilitik, ekonomi dan militer dunia.

“Kuncinya adalah pembangunan ekonomi yang mengikutsertakan partisipasi seluruh rakyat dan dunia usaha swasta serta merubah orientasi kearah ekspor,” terang Anwar Nasution.

Dr Drs Krisno Legowo, MSi (Pengajar Di sekolah Tinggi Intelijen Negara) mengatakan, keberhasilan pertumbuhan GDP negara Tionghoa sebesar 8% -15% selama 30 tahun dengan menggeser posisi ekonomi Jepang di dunia, berlanjut pada perluasan ekonomi dengan pencarian Sumber Daya Alam (SDA) di luar wilayah kedaulatan, sebagai inti kepentingan nasional mendukung pertumbuhan ekonomi dan pengaruh.

Apalagi, Presiden Xi Jinping percaya, bahwa partai yang bebas korupsi dan dibawah pimpinan solid dapat “Serve The People” serta membawa kebahagian dan kepatuhan terhadap pemerintah yang dilandasi cinta negara dan jiwa patriotik yang terus digaungkan melalui media dan dunia pendidikan.

“Keberlanjutan kebangkitan Tiongkok yang mengantisipasi dan menjaga pelambatan pertumbuhan ekonomi dengan sasarannya lebih focus dan terkoordinasi pengaruh Tiongkok dengan dunia lebih terkontrol, khususnnya yang dilalui proyek dari Asia Tengah ke Eropa," terang Krisno Legowo.   

Johanes Herlijanto. M.Si, Ph.D (Pengajar Universitas Pelita Harapan) dalam paparannya mengatakan, Citra Tiongkok di Indonesia semakin membaik dalam beberapa dasawarsa terakhir, seiring dengan berubahnya Tiongkok sebagai negara yang lebih modern serta sebagai sumber inspirasi bagi perkembangan Indonesia ke arah yang lebih maju.

Meski demikian menurutnya, bukan berarti narasi negatif tentang Tiongkok telah lenyap. Sebaliknya, narasi tersebut masih tetap hidup dalam pikiran sebagian kalangan dan bahkan muncul kembali ke arena publik di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini.

"Salah satu peristiwa yang menarik terkait kemunculan kembali narasi negatif tersebut adalah keputusan Pemerintah Indonesia untuk bekerja sama dengan Tiongkok dalam proyek pembangunan Kereta Api cepat Jakarta - Bandung. Sejak itu, seiring dengan semakin derasnya arus investasi Tiongkok ke Indonesia, pandangan yang menyuarakan kekhawatiran terhadap dampak negatif dari investasi Tiongkok tersebut semakin sering dijumpai, baik di media maupun dalam pembicaraan - pembicaraan terbatas di kalangan kelompok elit tertentu di Indonesia," ungkap Johanes Herlijanto.

Ketua Harian Perhimpunan INTI dr. Indra Wahidin menambahkan, neraca perdagangan 2018 mencapai USD 74,88 miliar, naik 23,7 %, dimana ekspor Indonesia ke Tiongkok sebesar USD 27,13 miliar. Sedangkan impor Indonesia dari Tiongkok sebesar 45,35. Dibidang investasi meningkat pesat dari 300 juta USD, menduduki posisi No. 3 dari semula posisi No. 12.

"Proyek kereta cepat Jakarta - Bandung dan Waduk Jatigede, beberapa proyek pertambangan di Sulawesi dan Kalimantan serta perubahan raksasa Huawei, telah menyerap banyak tenaga lokal, walaupun di media selalu menyorot tentang penempatan tenaga kerja asing di proyek tersebut," ungkap Indra Wahidin.

Begitu juga tambahnya, jumlah mahasiswa yang menuntut ilmu ke Tiongkok mencapai 15 ribu orang, menempatkan posisi No. 2 negara tujuan sekolah luar negeri. Program China Government Scholarship untuk Indonesia, juga setiap tahunnya bertambah, dimana tahun 2013 hanya 49 orang, tahun 2018 meningkat menjadi 215 orang. (ARMAN R)

Berita Terkait