Senin, 23 September 2019 | 21:19:01 WIB

KPK Dalami Suap Pengadaan Lain di Garuda Indonesia

Selasa, 20 Agustus 2019 | 10:06 WIB
KPK Dalami Suap Pengadaan Lain di Garuda Indonesia

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mejawab pertanyaan wartawan di Gedung KPK Jakarta. (FOTO: MI/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami kasus dugaan suap pengadaan pesawat Airbus dan mesin pesawat Rolls-Royce di PT Garuda Indonesia (Persero). Penyidik bahkan telah mengidentifikasi adanya dugaan suap baru dalam kasus tersebut.
 
“Dalam kasus ini KPK juga mengidentifikasi dugaan suap lainnya terkait pembelian pesawat Airbus, ATR (Avions de Transport Regional) dan pesawat Bombardier,” kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Senin, 19 Agustus 2019.
 
Penyidik juga telah mengidentifikasi total suap yang mengalir kepada tersangka, termasuk sejumlah pihak dari pengadaan pesawat milik perusahaan pelat merah tersebut. Total uang haram itu mencapai Rp100 miliar.

“Yang telah teridentifikasi sampai saat ini adalah sekitar Rp100 miliar dalam bentuk berbagai mata uang, mulai dari Rupiah, USD, EURO, dan SGD,” kata Febri.
 
Selain suap, kata Febri, penyidik juga terus mendalami kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang menjerat mantan Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar. Lembaga antirasuah menelisik penggunaan 30 rekening atas nama Emirsyah dan perusahaan.
 
Menurut Febri, sebagian besar informasi rekening itu didapat melalui mutual legal assistance (MLA) dari yurisdiksi hukum negara lain. Analisa 30 rekening ini penting dilakukan dalam rangka menelusuri aliran uang.
 
“Penyidik mendalami perputaran uang yang diterima ESA (Emirsyah Satar), salah satu yang didalami adalah proses pembelian dan asal usul uang untuk membeli sebuah rumah di Pondok Indah,” pungkas Febri.
 
KPK menetapkan Emirsyah dan mantan Direktur Utama PT Mugi Rekso Abadi, Soetikno Soedardjo sebagai tersangka kasus dugaan suap pengadaan pesawat Airbus dan mesin pesawat Rolls-Royce di PT Garuda Indonesia (Persero).
 
Teranyar, penyidik menjerat mantan Direktur Teknik dan Pengelola Armada Garuda Indonesia, Hadinoto Soedigno. Ketiganya diduga menerima sejumlah uang dari perusahaan Rolls-Royce atas pengadaan pesawat tahun anggaran 2008-2013.
 
Dari hasil pengembangan, KPK kembali menetapkan Emirsyah dan Soetikno sebagai tersangka kasus TPPU. Emirsyah diduga membeli rumah yang beralamat di Pondok Indah senilai Rp5,79 miliar. Emirsyah juga diduga mengirimkan uang ke rekening perusahaannya di Singapura sebanyak USD680 ribu dan EUR1,02 juta.
 
Termasuk melunasi apartemennya di Singapura seharga SGD1,2 juta. Uang itu diduga dari hasil suap pengadaan pesawat di perusahaan plat merah tersebut.
 
Emirsyah dan Soetikno diduga melanggar Pasal 3 atau Pasal 4 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Juntl Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

MEDCOM

Berita Terkait