Selasa, 24 September 2019 | 01:27:10 WIB

Pemindahan Ibu Kota Diyakini Tak Bikin Suku Asli Terpinggirkan

Sabtu, 24 Agustus 2019 | 17:45 WIB
Pemindahan Ibu Kota Diyakini Tak Bikin Suku Asli Terpinggirkan

Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam (ketiga dari kiri). (FOTO: MI/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam, menilai pemindahan ibu kota tak akan menggerus suku asli di Kalimantan. Masyarakat justru akan terbantu dengan bergeraknya laju perekonomian.
 
"Jadi suatu tantangan juga bagi mereka untuk hidup di dalam zaman pembangunan ini. Dalam arti budaya mereka tetap dipertahankan, tapi tidak menolak modernisasi semacamnya," kata Asvi dalam diskusi bertajuk 'Gundah Ibu Kota Pindah' di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 24 Agustus 2019
 
Asvi mengatakan semua suku di Kalimantan sudah berpolitik, utamanya suku Dayak. Artinya, masyarakat asli Kalimantan telah mengikuti perkembangan zaman.

Menurut dia, bila pemindahan ibu kota ini berhasil akan tercatat dalam tinta emas. Sebab, ini akan menjadi kali pertama dalam sejarah di Indonesia.
 
"Butuh keberanian untuk menempatkan Kalimantan sebagai wilayah yang di tengah-tengah Indonesia menjadi pusat pemerintahan, yang diharapkan juga itu akan mendorong bisnis, BUMN lainnya ke sana," ujar Asvi.
 
Kalimantan Timur disebut bakal menjadi ibu kota baru. Proses pembangunan membutuhkan waktu minimal tiga tahun. Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil menyebut lahan yang diperlukan untuk ibu kota baru mencapai 200 ribu-300 ribu hektare (ha).
 
Pembangunan tahap pertama akan memakan setidaknya 3.000 ha lahan. Tanah ini akan digunakan untuk membangun kantor kepresidenan, kantor kementerian atau lembaga, gedung MPR atau DPR, dan berbagai fasilitas publik lainnya.

MEDCOM

Berita Terkait