Sabtu, 16 November 2019 | 05:56:11 WIB

TGB : Kebangsaan Dan Keislaman Di Indonesia Tidak Dapat Dipisahkan

Rabu, 28 Agustus 2019 | 11:58 WIB
TGB :  Kebangsaan Dan Keislaman Di Indonesia Tidak Dapat Dipisahkan

(FOTO : UI/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Tokoh Nahdlatul Wathan Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Mazdi heran masih ada kelompok masyarakat yang menunjukan tidak sepakat dengan Pancasila. Padahal, perdebatan terkait system berbangsa dan bernegara sudah dilakukan para pendiri bangsa puluhan tahun yang lalu.

Menurut TGB, Kebangsaan dan keislaman di Indonesia tidak dapat dipisahkan, keduanya berjalan seiringan. “Kebangsaan dan keislaman kita tidak dapat dipisahkan,” terang TGB saat mengisi Dialog Kebangsaan di Sekolah Kajian dan Strategik Global Universitas Indonesia (UI) di Salemba, Jakarta Pusat, (27/8).

Menurutnya, dalam beberapa literature keislaman definisi negara islam adalah negara yang memiliki penduduk mayoritas bukan yang menggunakan system pemerintahan tertentu.  Selain itu, khaznah keislaman di Indonesia sangat kaya dan mendalam. Bahkan, tidak ada negara  luar yang memiliki khazanah keislaman seperti Indonesia.
 

“Selain rujukannya yang banyak  hal itu juga dipengaruhi karakteristik ulama kita yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan, mencintai tanah air,” ucapnya.
 

TGB menjelaskan, Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam yang lahir sebelum kemerdekaan seperti Sarekat Dagang Islam (SDI), Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peranan penting dan kesamaan visi dalam hal memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Semuanya beragama Islam, memahami Islam tapi tidak mengenyampingkan nilai-nilai kebangsaan yang menurut sebagaian Ormas Islam saat ini bertentangan dengan ajaran agama.
 

“Ini tidak ada di negara lain, di Mesir ada Ormas Jamiyah Syari’ah islamnya mendomiasi, dibandingkan dengan kemesiran (kebangsaan) penetrasi keislaman mereka lebih kuat, warna kemesiran itu tidak ada, mereka hanya diajak untuk lebih taat kepada agama,” ujarnya.
 

Ketua Ikatan Alumni Al-Azhar Indonesia ini menyampaikan, Ormas-ormas yang saat ini terus menerus menyudutkan system bernegara, adalah Ormas yang ingin merevitalisasi islam di tengah masyarakat. Di Indonesia, kata dia, upaya itu tidak akan pernah berhasil sebab masyarakat Indonesia memiliki karakter yang kuat terkait pemahaman kebangsaannya. 
 

“Indonesia punya hal yang beda, kalau kita lihat karakter dari para ulama, ulama sepuh NU, Hadrotu Syaikh KH Hasyim Asy’ari, beliau ulama yang memiliki khazanah keilmuan yang tinggi,” katanya.
 

Sementara itu, Direktur Organisasi Kemasyarakatan pada Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), M. Lutfi menegaskan, setiap ormas yang dinilai bertentangan dengan Pancasila akan dievaluasi bahkan akan dicabut izinnya. Ia telah memberikan evaluasi kepada 28 Ormas Islam yang dinilai masih meragukan Pancasila sebagai ideology negara. “Jadi ormas itu harus berasaskan Pancasila,” katanya.
 

Menurut Lutfi, Ormas Islam adalah penguat dan benteng Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kemendagri masih melakukan pengkajian mengenai pembentukan Komisi Pemberantasan Republik Indonesia sebagai lembaga yang mengawasi ideology masyarakat agar tidak menjadi ancaman bagi NKRI. (ARMAN R)

Berita Terkait