Sabtu, 16 November 2019 | 06:03:28 WIB

Gojek: Kesejahteraan Mitra Tidak Bergantung pada Tarif

Senin, 2 September 2019 | 21:58 WIB
Gojek: Kesejahteraan Mitra Tidak Bergantung pada Tarif

Ilustrasi - Iklan gojek di Jakarta. (FOTO: AFP/MEDCOM/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Aplikasi penyedia layanan transportasi on demand, Gojek, membenarkan jika kenaikan tarif memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan mitranya. Namun, perusahaan rintisan (startup) asal Indonesia ini tidak sepakat jika faktor tersebut dikatakan satu-satunya.
 
Menurut Senior Manager Corporate Affairs Go-Jek Alvita Chen, beberapa program dilakukan Gojek untuk meningkatkan kesejahteraan mitra. Dengan demikian, mitra Gojek tidak hanya bergantung pada kenaikan tarif.
 
"Kami mempelopori pelatihan pengembangan skill dan pengetahuan (BBM), akses untuk pengelolaan keuangan (Gojek Swadaya), hingga pemutakhiran super-app mitra driver Gojek," ujarnya di Jakarta, Senin, 2 September 2019.

Dengan super-app mitra driver Go-Jek, misalnya, mitra bisa terus menemukan peluang baru dalam mencari nafkah dengan waktu bekerja yang lebih fleksibel.
 
Adapun sesuai arahan Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Go-Jek hari ini siap melaksanakan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 12 dan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 348 Tahun 2019 tentang perluasan tarif dasar dan tarif minimum Go-Ride.
 
"Tarif dasar dan tarif minimum Go-Ride telah disesuaikan di 221 kota tempat Go-Jek beroperasi," tuturnya.
 
Berdasarkan aturan yang baru, ketentuan tarif untuk masing-masing zona adalah, zona I (Sumatra, Jawa, Bali kecuali Jabodetabek): Rp 1.850-2.300 per km dengan biaya minimal Rp 7.000-10.000.
 
Kemudian, zona II (Jabodetabek): Rp 2.000-2.500 per km dengan biaya minimal Rp 8.000-10.000. Lalu, zona III (Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku, dan lainnya): Rp 2.100-2.600 dengan biaya minimal Rp 7.000-10.000 Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan mengevaluasi tarif tersebut tiga bulan setelahnya, apakah nantinya tarif mengalami kenaikan, penurunan, atau tetap.

MEDCOM

Berita Terkait