Selasa, 12 November 2019 | 06:07:27 WIB

Habibie, Cinta, Dirgantara, dan Demokrasi Indonesia

Rabu, 11 September 2019 | 22:49 WIB
Habibie, Cinta, Dirgantara, dan Demokrasi Indonesia

Presiden ketiga Indonesia BJ Habibie. (FOTO: ANTARA/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Presiden ketiga Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie wafat ba'da Maghrib, Kamis, 11 September 2019. Indonesia berkabung.
 
Presiden Joko Widodo menyampaikan duka cita mendalam usai melayat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Jokowi mengenang Habibie sebagai sosok berpengaruh di bidang teknologi Indonesia.
 
"Bapak Habibie kita kenal sebagai seorang ilmuwan pastinya dan juga Bapak Teknologi Indonesia, serta beliau adalah Presiden ketiga Indonesia," kata Jokowi.

Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA Tuti Marini Puspowardojo. Sang ayah merupakan ahli pertanian dari Gorontalo. Ibunya, merupakan dokter spesialis mata di Yogyakarta.
 
Ketika remaja, Habibie bersekolah di SMAK Dago, Bandung. Ia sempat mencicip pendidikan di jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung, selama enam bulan pada 1954. Setahun kemudian, Habibie melanjutkan kuliah studi Teknik Penerbangan di Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman.
 
Sepuluh tahun kuliah, Habibie memegang dua gelar sekaligus, Diplom Ingenieur pada 1960 dan Doktor Ingenieur pada 1965 dengan predikat summa cumlaude. Selama kuliah, Habibie sering bolak-balik ke Tanah Air, berziarah ke makam sang ayah di Ujung Pandang (kini Makassar-red).
 
Ia juga pelesiran ke Bandung. Di Kota Kembang, Habibie sering mengunjungi rumah tetangganya, keluarga Hasri Ainun Besari. Pada 1962, Habibie meminang Ainun. Mereka pun memutuskan tinggal di Jerman.
 
Habibie harus berusaha keras membiayai kehidupan keluarga, istri dan dua anaknya Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie. Ia juga harus membiayai pendidikan doktor yang sedang ditempuhnya.
 
Meraih gelar doktor, Habibie bekerja sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan Analisis Struktur Pesawat Terbang di Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB), sebuah perusahaan penerbangan di Hamburg, Jerman, pada 1965-1969. Setelah itu, Habibie menjabat sebagai Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada Industri Pesawat Terbang Komersial dan Militer dari 1969-1973.
 
Habibie juga menjadi orang Asia pertama yang menjabat sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi MBB periode 1973-1978. Karir putra berdarah Bugis itu memang cemerlang di Benua Biru. Berbagai teori dan metode di bidang thermodinamika, konstruksi, dan aerodinamika berhasil diciptakan seperti 'Habibie Factor', 'Habibie Theorem', dan 'Habibie Method'.
 
Kecemerlangan Habibie di Benua Biru sampai ke telinga Presiden Soeharto. Ibnu Sutowo, pimpinan PT Pertamina saat itu, diminta membujuk Habibie kembali ke Tanah Air, mengembangkan industri penerbangan Indonesia. Habibie tergiur.
 
Ia telah mempersiapkan sumber daya manusia sejak bekerja di MBB. Pada 1968, puluhan insinyur asal Indonesia bekerja di perusahaan penerbangan itu atas rekomendasi Habibie.
 
Pada 1978, Habibie menjadi penasehat pemerintah di bidang teknologi pesawat terbang dan teknologi tinggi. Jabatan itu langsung di bawah Presiden Soeharto. Selama dua dasawarsa Habibie menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi dari 1978-1998.

Pembuatan N-250

Habibie ditunjuk sebagai Direktur Utama Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) pada 1976. Ia menjadi sosok penting di balik pengembangan industri penerbangan di era Orde Baru. Industri penerbangan Indonesia pun berjaya pada era itu.
 
Sejumlah pesawat terbang berhasil dibuat melalui kerja sama dengan beberapa negara, seperti CN235 yang diproduksi masal pada 1983, N250, dan N2130. Pesawat N250 yang merupakan rancangan Habibie berhasil terbang saat peringatan 50 tahun Kemerdekaan Indonesia. Sementara, proyek N2130 harus dihentikan karena krisis keuangan.
 
"Pesawat N-250 adalah pesawat pertama dengan teknologi truboprop untuk penerbangan sipil. Saat itu, Indonesia juga sudah mulai memasuki program pesawat jet," kata pakar teknik dan penerbangan ITB Hisar Maongam Pasaribu seperti dikutip dari Historia.
 
Geliat industri penerbangan meredup menjelang krisis moneter. Indonesia terpaksa meminjam uang dari International Monetary Fund (IMF). IMF bersedia menggelontorkan duit dengan syarat IPTN ditutup. Ribuan karyawan IPTN terpaksa dirumahkan.
 
Puluhan tahun berselang, Habibie masih merasakan kegetiran saat menceritakan nasib proyek pesawat N-250 itu. Suaranya getir saat bercerita dalam pengukuhan 10 anggota baru Asosiasi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di kediamannya, Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu, 24 Mei 2015.
 
Habibie menyebut IPTN didirikan bersama 20 pekerja. Saat industri penerbangan berjaya, IPTN mempekerjakan 48.000 pekerja. Pekerja IPTN disekolahkan ke luar negeri melanjutkan pendidikan sarjana hingga doktor. Putra-putri kebanggaan Tanah Air itu disiapkan untuk merakit pesawat terbang kebanggaan nasional.
 
"Saya serahkan 48.000 orang dan saya serahkan semua itu untuk membuat apakah kereta api, pesawat terbang, apa senjata. Total turn over 10 juta dollar AS, tapi karena reformasi diimbau oleh IMF, kita ramai-ramai membunuhnya. Di kacamata saya, itu kriminal," kenang Habibie.


Demokrasi dan Ekonomi

Habibie terpilih menjadi wakil presiden mendampingi Presiden Soeharto pada 14 Maret 1998. Sekitar dua bulan menjabat, Habibie naik jabatan sebagai Presiden. Presiden Soeharto meninggalkan Istana karena desakan massa yang menuntut reformasi. Pada 21 Mei 1998, Habibie mengambil sumpah sebagai Presiden.
 
Habibie membentuk kabinet baru yang bertugas memulihkan ekonomi. Ia juga membebaskan para tahanan politik yang ditangkap selama Orde Baru. Habibie juga mengembalikan kebebasan berpendapat dan berorganisasi.
 
Sejumlah undang-undang menjadi terobosan pemerintahan Habibie. Tercatat, Undang-Undang Anti Monopoli, Undang-Undang Persaingan Sehat, Undang-Undang Partai Politik, dan Undang-Undang Otonomi Daerah dilahirkan pada era tersebut.
 
Kebebasan berpendapat dan berorganisasi juga membuat partai baru lahir di perpolitikan Indonesia. Bapak Teknologi Indonesia ini juga menghapus larangan pendirian serikat buruh independen dan membuat 12 ketetapan MPR.
 
Di sektor ekonomi, Habibie sukses menekan nilai tukar Rupiah terhadap USD yang berkisar Rp10.000 hingga Rp.15.000 menjadi Rp.6.500. Saat menjabat sebagai Presiden, Habibie juga menjalankan usul PBB mengadakan jajak pendapat otonomi Provinsi Timor-Timur.


Motor Gede

Presiden Jokowi sempat menarik perhatian masyarakat karena menunggangi motor gede jenis chopper beberapa waktu lalu. Hobi serupa juga dimiliki Habibie. Habibie mengoleksi dua motor gede pabrikan Softail Springer dan Badboy yang dibeli di Seattle, Amerika Serikat.
 
Motor ini dipajang pada Pameran Foto: 80 Tahun Habibie di Museum Bank Mandiri, Jakarta Barat, 24 Juli 2016. Dalam keterangan foto, hobi mengendarai motor gede itu berhubungan dengan kesehatannya saat itu.
 
Dokter menyarankan Habibie mengendarai motor gede agar bekas jahitan operasi jantungnya segera pulih. Getaran besar yang dihasilkan motor gede dinilai bisa membuat jahitan itu kembali normal.
 
Dalam pameran itu juga dipajang foto Habibie membonceng Presiden Soeharto. Potret hitam putih menjadi bukti kepercayaan Soeharto kepada Habibie.
 
“Itu sebenarnya menggarisbawahi kalau Pak Harto itu percaya. (Dibonceng) yang lain nggak mau dia. Karena ini interpretasi kepercayaan,” tutur Habibie.
 
Habibie wafat setelah dirawat sekitar 10 hari di RSPAD Gatot Subroto. Anak bungsunya, Thareq Kemal Habibie menyebut Habibie meninggal karena mengalami penurunan fungsi organ tubuh.
 
"Tim dokter sudah memberikan yang terbaik. Karena memang usia dan gagal jantung," kata dia.

MEDCOM

Berita Terkait