Rabu, 16 Oktober 2019 | 04:49:13 WIB

Ibu Kota Baru Aman Dari Kebakaran Hutan Dan Lahan

Selasa, 17 September 2019 | 11:05 WIB
Ibu Kota Baru Aman Dari Kebakaran Hutan Dan Lahan

(FOTO : CNBCINDONESIA.COM/LINDO)

JAKARTA, LINDO- Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro memastikan tidak ada satupun titik panas yang terdapat di lokasi ibu kota baru di Kabupaten Penajam Paser Utara. Menurut Bambang, tim dari Bappenas telah mengecek langsung tanah di lokasi tersebut.

“Tanahnya sudah kami cek, bukan tanah yang mengandung gambut, maupun tanah yang mudah terbakar seperti batubara,” ungkap Bambang.
Menurut Bambang, sebagian dari lahan ibu kota baru nantinya merupakan area hutan tanaman industri. “Jadi selama belum ada laporan apa-apa (kebakaran), berarti ya kondis di sana (hutan tanaman industri) baik-baik saja,” kata Bambang, Selasa (17/9).

Bambang menyadari, asap di daerah lain di Kalimantan bisa saja terhembus angin ke Penajam Paser Utara. Tapi bagi dia,  kondisi ini juga sudah terjadi di daerah lain. “Singapura saja kena, complain karena asap yang bukan dari mereka, jadi artinya, ya ini pasti bencana mungkin terjadi,” ujar Bambang. Namun, Ia memastikan Penajam Paser Utara adalah tempat dengan resiko bencana yang paling kecil.

BPBD Kabupaten Penajam Paser Utara menduga kebakaran lahan yang terjadi di daerah itu faktor kesengajaan yang dilakukan masyarakat. "Kami duga ada faktor kesengajaan yang dilakukan warga melakukan pembakaran, tetapi tidak diawasi," ucap Nurlaila.

Salah satunya adalah pembakaran sampah yang tidak diawasi, sehingga api menjalar ke lahan di sekitarnya dan terjadilah kebakaran. Kebakaran lahan yang terjadi di Kabupaten Penajam Paser Utara tersebut mengakibatkan jarak pandang di Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sepinggan Balikpapan menurun.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono memastikan, lokasi ibu kota baru aman dari Kebakaran Hutan dan lLahan (Karhutla). Berdasarkan survei potensi karhutla, wilayah Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara minim tanah lahan gambut potensial batu bara.

"Kami sudah survei, kalau yang di sebelah timur (Bukit) Soeharto-Semboja itu memang daerah batu bara. Tapi sebelah utara kelihatannya batu baranya tidak signifikan, menurut survei kita," ujar Basuki ditemui di Hotel Sultan, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Senin, (16/9).

Menurutnya, gambut merupakan tahap awal pembentukan batu bara. Manakala kondisinya sesuai, gambut dapat berubah menjadi sejenis batu bara setelah melewati periode waktu geologis.

Jika ada tanah lahan gambut batu bara maka berpotensi besar terjadi karhutla. Dalam kondisi tersebut, akunya, penyelesaian kebakaran hutannya sulit dan bahkan berlarut-larut. "Kalau (tanah lahan gambut) batu bara itu bahaya, dia bisa terus tahunan. Kalau terekspose, terbakar, itu bisa masuk ke dalam dan itu paling susah," jelasnya.

Meski demikian, Basuki bakal melakukan kajian lebih detail terkait potensi Karhutla di kawasan Samarinda. Selain itu, Kementerian PUPR juga telah merencanakan untuk membuat bendungan sebagai upaya pencegahan terkait karhutla.

"Kita kan lokasinya di sebelah sini (arah utara Bukit Soeharto), kalau yang di sebelah sininya (arah timur) yang kena tol itu memang gambut batu bara, tapi yang sebelah sini (utara) batu bara tipis. Mau bikin bendungan di situ," ungkap Basuki.

Presiden Joko Widodo telah mengumumkan sebagian kawasan Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kertanegara menjadi lokasi ibu kota baru. Wilayah ini dianggap minim risiko bencana, seperti banjir, gempa, tsunami, kebakaran hutan, gunung berapi, dan tanah longsor.

Selain itu, wilayah ini dinilai strategis karena berada di tengah Indonesia. Kawasan ini juga diapit perkotaan yang sedang berkembang, Balikpapan dan Samarinda. Sejumlah infrastruktur pendukung pun tersedia di wilayah tersebut.

Tim Terpadu Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) Kalimantan Timur terus berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah tempat.

Kebakaran diduga terjadi sejak awal September di Kecamatan Sepaku. Peristiwa serupa juga terjadi di Kecamatan Waru dan terakhir di Kecamatan Penajam, khusus di Kecamatan Penajam, api berada di Kelurahan Petung dan Desa Giripurwa.

Sejumlah pihak baik dari masyarakat maupun tim terpadu bekerja sama untuk memadamkan kebakaran tersebut. Selain itu, ada pula tambahan dari Tentara Nasional Indonesia (TNI).

"Ada satu peleton dari Yon Zipur 17 TNI Angkatan Darat ikut membantu kita menangani kebakaran di Giripurwa," kata Tohar, Sekretaris Daerah PPU dalam keterangannya. (ARMAN R)

Berita Terkait