Rabu, 16 Oktober 2019 | 04:51:37 WIB

Menjaga Papua Demi Keutuhan NKRI

Minggu, 22 September 2019 | 15:00 WIB
Menjaga Papua Demi Keutuhan NKRI

(FOTO : ICMI/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Menyikapi gonjang-ganjing yang terjadi di Papua beberapa minggu lalu, Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia Kota Jayapura (ICMI Jayapura) menyelenggarakan diskusi publik dengan tema “Menjaga Tradisi Demi Kutuhan NKRI”, Sabtu (21/9). Acara yang diselenggrakan di Caffe & Resto Rainbow, Jayapura (Papua), dihadiri puluhan Pemuda Mahasiswa, Aktivis, Masyarakat dan di Papua.

Hadir menjadi narasumber dalam acara tersebut Khar Yelipele, MA (Tokoh Masyarakat Papua Jayapura), Dr. Arianto Kadir (Ketua ICMI Jayapura), dan Ahmad Muhazir, SE, M.Si (Ketua GP Ansor Jayapura).

Ketua GP Ansor Jayapura Ahmad Muhazir mengatakan, aspirasi sudah dilakukan oleh masyarakat Papua, tentang bagaimana hari ini pemerintah merangkul agar terwujudnya rekonsiliasi dengan baik sebagai bentuk jawaban, bahwa pemerintah sudah tepat caranya untuk menjaga kestabilan khusunya di Papua.

Hal itu terlihat dari upaya-upaya yang dilakukan secara keseriuasan pemerintah pusat yang dipinmpin oleh presiden melelui pihak keamanan dan menggunakan pendekatan kebudayaan, agama maupun politik.

“Pemerintah pusat sudah tepat menggunakan pendekatan kebudayaan, agama maupun politik dalam menjaga kestabilan di Papua,” ujar Muhazir.

Menurutnya, langkah yang ditempuh pemerintah dengan mengundang tokoh Papua untuk silaturahim ke Istana adalah langkah positif yang dilakukan oleh Pemerintah. Dalam hal ini Pemerintah Daerah (Pemda) juga mempunyai cara baik untuk menyelesaikan persolan terkait Papua. Tapi memang persolan ini tidak bisa diselasaikan dengan cepet, pemerintah harus mengkaji betul-betul persoalan tersebut dengan cermat dan teliti.

“Saya sadar betul persolan ini tidak bisa diselasaikan dengan cepat, pemerintah harus mengkaji betul-betul persoalan tersebut dengan cermat dan teliti,” terang Muhazir.

Ia menilai, konfik ini bermula dari anak muda/mahasiswa Papua yang berada di Pulau Jawa tepatnya di Surabaya dan Malang. konflik ini bermula dari penggrebekan mahasiswa Papua yang berada di Surabaya dan Malang sehingga kejadian tersebut langsung direspon oleh banyak kelompok, ada respon positif dan ada pula kelompok yang merespon negative yang memang menginginkan perpecahan di antara persaudaraan sebangsa dan setanah air.

Respon-respon ini begitu cepat tersebar di Media Sosial (Medsos), sehingga informasi yang didapaat oleh masyarakat tumpang tindih dan sangat sulit disaring. masyarakat harus cerdas dalam menerima informasi atau berita agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu kebenarannya.

 

“Belajar dari persoalan ini, kita harus mengkedepankan 3 aspek agar kita tetap bersatu. aspek yang pertama adalah merwat kebangsaan, merawat sejaraah asal muasal suku bangsa, dan merawat nilai-nilai etika (sopan santun, serta adat istiadat setia suku). jika hal tersebut mampu kita jaga, hal itu akan menjadikan sebuah identitas bangsa yang harus kita syukuri karena itu semua merupakan karunia Tuhan,” jelasnya.

Tokoh Masyarakat Papua Jayapura Khar Yelipele dalam acara tersebut, mengingatkan lagi tentang soal persatuan dan kesatuan, menurutnya Papua sejak awal sudah bersatu dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). hal tersebut terlihat dari tokoh-tokoh agama dan masyarakat asli Papua. “Sejak awal sudah bersatu dengan NKRI, mari kita jaga persatuan dan kesatuan,” ujar Yelipele.

Menurutnya, ada oknum atau kelompok yang sengaja merusak persaudaraan ini yang kadang-kadang membuat kita sebagai masyarakat Papua menjadi tidak pecaya diri dan merasa termarjinalkan, padahal sebenarnya kita ini sama dengan mereka, hanya saja kita dibedakan oleh adat istiadat kita.

“Ada oknum atau kelompok yang sengaja merusak persaudaraan ini yang kadang-kadang membuat kita sebagai masyarakat Papua menjadi tidak pecaya diri dan merasa termarjinalkan,” tegas Yelipelle.

Lewat forum diskusi publik ini, ia menghimbau kepada masyarakat, khususnya para mahasiswa bersama-sama menjaga tanah Papua ini dengan tidak merusak kepercayaan kita terhadap NKRI ini.

“Ayo bersama-sama menjaga tanah Papua ini dengan tidak merusak kepercayaan kita terhadap Negara Republik Indonesia ini,” ucap Yelipelle.

Sedangkan Ketua ICMI Jayapura Arianto Kadir menilai, yang terjadi di beberapa waktu lalu tidak terlepas dari tunggangan oknum-oknum yang sengaja ingin merusak negara kita dan merusak persaudaraan kita.

“Saya menilai kasus kemarin ada oknum yang sengaja ingin merusak negara kita dan merusak persaudaraan kita. Mungkin bentuk tawaran solusi untuk kita lakukan salahasatunya lewat forum ICMI ini kita renungkan bersama-sama bahwa persoalan ini mengajak kita untuk saling menjaga nilai-nilai toleransi yang salah satunya dapat dilakukan dengan cara bersilaturahim, dan saling menghargai antar masyarakat khusunya masyarakat yang ada di papua. misalnya silaturahim organisasi NU dan Muhamadiyah, antar agama dan adat istiadat. ketika ini dilakukan maka tidak akan terjadi perselisihan,” ujar Arianto.

Menurutnya, kita jangan terlalu lama berlarut-larut dalam menanggapi konflik ini yang ada kita malah pusing sendiri. “Kita harus segera bangkit, pekerjaan rumah kita masih banyak, misalnya kita harus membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, mampu mengolah Sumber Daya Alam (SDA). jangan sampai SDA yang ada di Papua ini dikelola oleh kelompok-kelompok yang tidak pro NKRI. (ARMAN R)

Berita Terkait