Selasa, 22 Mei 2018 | 05:47:05 WIB

Kisah Pertarungan Penguasa Kelompok Makassar dan Kelompok Mandar di Kalijodo

Rabu, 17 Februari 2016 | 14:06 WIB
Kisah Pertarungan Penguasa Kelompok Makassar dan Kelompok Mandar di Kalijodo

Inilah kawasan Kalijodo yang deperebutkan dua penguasa asal Sulawesi. (FOTO: IST/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Menyebut nama Kalijodo, bagi orang Bugis Makassar atau secara umum Sulawesi Selatan dan Mandar di Sulawesi Barat (Sulbar), bukan hal yang asing. Di daerah ini, Kalijodo ibarat sebuah legenda dan bahkan “kebanggan” jika disebut dan dihubungkan dengan suku itu.

Tak dipungkiri, jika orang menyebut penguasa Kalijodo dengan segala dunia hitamnya, tak lepas dari dua nama yang berasar dari Makassar dan Mandar. Kenapa kali ini Kalijodo begitu santer disebut dan diulas kembali, termasuk penguasanya.

Tentunya tak lepas dari insiden maut di Daan Mogot. Saat itu pelaku penabrakan baru saja menghabiskan malam di Kalijodo. Apa sebenarnya Kalijodo. Untuk diketahui, ada dua kelompok besar yang menjadi ’penguasa’ di Kalijodo, yaitu kelompok Suku Mandar yang dipimpin Yusman Nur, dan Daeng Aziz yang memimpin kelompok Makassar.

Namun, Yusman sendiri sudah meninggalkan daerah hitam itu sejak 2002 silam saat bentrokan antardua kelompok besar yang terjadi di sana. Posisi ’dedengkot’ Kalijodo kini ada di tangan Daeng Aziz dengan kelompok pemuda Makassarnya.

Bahkan tulisan tentang Kalijodo pernah dituangkan khusus oleh Kombespol Krishna Murti, Direktur Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya, saat menjabat sebagai Kapolsek Metro Penjaringan pada 2002 silam dengan pangkat ajun komisaris polisi.

Mengutip buku yang ditulisnya sendiri berjudul  ’Geger di Kalijodo’ yang diterbitkan pada 2004, Krishna menuturkan pengalamannya saat menangani bentrokan dua kelompok preman di sana.

Di bukunya, Krishna menuturkan, kelompok Mandar pimpinan Yusman lebih terorganisir dibandingkan kelompok Daeng Aziz yang cenderung lebih ugal-ugalan dan hantam kromo.

”Kelompok Yusman memiliki struktur layaknya sebagai organisasi lengkap dengan ’pasukan tentara’ dan ’panglima perangnya’. Para anak buah Yusman ini mendapat sebutan kelompok Anak Macan,” terang Krishna.

Namun kelompok  ’Anak Macan’ ini tak langsung di bawah komando Yusman. Pucuk pimpinannya adalah Arkan Malik yang juga anak buah Yusman. Untuk menghidupi ratusan anak buahnya, Yusman menjalankan bisnis rumah judinya dan berbagai bisnis illegal lainnya.

”Yusman yang terbesar di Kalijodo, bukan Daeng Aziz,” lontar Krishna yang mengaku pernah ditodong pistol kepalanya oleh Daeng Aziz. Daeng Aziz sendiri diketahui berasal dari Bugis yang saat ini berusia 60-an tahun. Aziz pennah dipenjara karena menodong Krishna 2002 lalu.

Yusman dan Aziz pertama kali menginjakkan kakinya di Kalijodo pada 1965 silam.

Menurut catatan dalam penelitian Krishna Murti untuk studi pasca sarjana di Program Kajian Ilmu Kepolisian Universitas Indonesia. Krishna menggunakan pengalamannya sebagai Kepala Kepolisian Sektor Metro Penjaringan selama tiga tahun sejak 2001 sebagai bahan penelitian.

Dalam halaman belakang buku itu, budayawan Remy Silado menuliskan bahwa Krishna berhasil membukakan mata pembaca bahwa pertikaian preman di Kalijodo adalah perebutan mata pencarian yang meluas sampai pada benturan bernuansa suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA).

Di Kalijodo, terdapat pertikaian antara suku Mandar dan suku Bugis, keduanya dari Sulawesi. Di buku itu Krishna mengingatkan bahwa suatu pertikaian bernuansa SARA harus segera ditangani supaya tidak meluas.

Krishna menggambarkan puluhan kafe di Kalijodo, dengan kamar-kamar di bagian atas bagi para pengunjung yang ingin memiliki privasi dengan Pekerja Seks Komersial (PSK). Kafe dan warung menjual minuman keras juga, termasuk bir yang diminum Riki dan teman-temannya.

“Tapi daerah itu aman. Sebenarnya tingkat kriminalitas juga kecil. Aman lah,” ujar Khrisna.

Mengapa praktis prostitusi dibiarkan? “Ya, itu memang penyakit masyarakat. Di mana pun juga ada,” kata Khrisna.

Kalijodo, tempat mencari cinta

Di bukunya, Krishna menuliskan sejarah Kalijodo dan kawasan Penjaringan.

Sebagai salah satu kecamatan di Jakarta Utara, Penjaringan, adalah salah satu sabuk kota tua Jakarta. Letaknya strategis, tak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa. Tempat ini dikenal sejak era Batavia, di bawah pemerintahan kolonial Belanda.

Di kawasan Penjaringan ini terletak Kalijodo, yang diapit oleh Kali Angke dan Sungai Banjir Kanal, sebuah sungai buatan untuk mengurangi banjir di Jakarta.

Sesuai dengan namanya, Kalijodo sejak masa penjajahan Belanda dikenal sebagai tempat orang mencari cinta. Menurut Remy Silado dalam novel Ca-Bau-Kan, kawasan bantaran sungai itu populer tersohor di kalangan pedagangan Tionghoa.

Kini keberanian Gubernur Ahok benar-benar diuji apakah mampu membereskan masalah Kalijodo ini, mari kita tunggu waktunya. (JPNN)

Berita Terkait