Selasa, 19 November 2019 | 02:02:35 WIB

Nadiem dan Tantangan Pembenahan Pendidikan Indonesia

Sabtu, 26 Oktober 2019 | 12:00 WIB
Nadiem dan Tantangan Pembenahan Pendidikan Indonesia

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim. (FOTO: MI/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Direktur Eksekutif Rumah Milenial Indonesia Defli Yuandika Ruso mengapresiasi keputusan Presiden Joko Widodo mengangkat Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Presiden dinilai mampu membaca tantangan dan peluang dalam membenahi pendidikan di Indonesia.
 
"Zaman berbeda, maka pendekatan yang digunakan juga harus berbeda," kata Defli dalam keterangan tertulis, Jumat, 25 Oktober 2019.
 
Munculnya nama Nadiem sebagai Menteri di Kabinet Indonesia Maju sudah diprediksi. Namun, yang mengejutkan adalah posisi menteri yang diberikan kepada Nadiem. Apalagi kali ini, pendidikan tinggi digabungkan kembali ke dalam Kemendikbud.

"Kami melihat ini adalah terobosan baru dari Presiden untuk memenuhi visinya yaitu menciptakan SDM yang unggul. Presiden melihat kemampuan Nadiem sewaktu membesarkan Go-Jek di mana dia mampu membaca perkembangan zaman dan memberikan solusi," terang Defli.
 
Defli mengingatkan, Kemendikbud adalah salah satu kementerian penting yang memiliki jaringan birokrasi luas sampai ke daerah-daerah. Oleh karena itu, tugas Nadiem tidak mudah dan sangat menantang.
 
"Apalagi Nadiem adalah satu-satunya menteri dari usia milenial dan berasal dari kalangan swasta. Menghadapi birokrasi yang cenderung kaku menjadi tantangan tersendiri yang harus bisa diselesaikan oleh Nadiem. Kami mendukung dan menantikan solusi-solusi brilian dari beliau," ujar Defli.
 
Pendiri Rumah Milenial Indonesia, Sahat Martin Philip Sinurat mengharapkan Nadiem dapat membangun sistem pendidikan yang inklusif dan berkarakter Pancasila. Sahat sepakat dengan komitmen Nadiem yang akan memperkuat pendidikan berbasis karakter dan kompetensi.
 
Pasalnya beberapa tahun belakangan ini, lanjut Sahat, dunia pendidikan Indonesia, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, sudah disusupi oleh ideologi-ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan dapat mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu, penting bagi Mendikbud untuk mengevaluasi pengajar dan buku pelajaran yang ada di setiap tingkat pendidikan.
 
"Guru, dosen, dan buku pelajaran kita harus mengajarkan ilmu pengetahuan yang berpedoman pada nilai-nilai Pancasila," kata Sahat.
 
Ketua Bidang Pemuda dan Pengembangan Milenial DPP KNPI ini menambahkan, pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia. Generasi muda Indonesia harus menjadi manusia yang kreatif, kolaboratif, inklusif, tidak membeda-bedakan, berkarakter Pancasila.
 
"Selamat bekerja kepada Presiden Jokowi dan Kabinet Indonesia Maju, terkhusus kepada Mendikbud, satu-satunya menteri yang mewakili 40 persen generasi milenial Indonesia," tutup Sahat.

MEDCOM

Berita Terkait