Selasa, 24 April 2018 | 15:36:37 WIB

Terapkan Sistem “Booking Out”, Tarif 500 -700 Ribu

Minggu, 24 September 2017 | 05:33 WIB
  • Inilah lokasi Dolly pasca penutupan pada tanggal 19 juni 2014 oleh Pemrintah Kota Surabaya. (FOTO: IST/LINDO)

SURABAYA, LINDO -  Ini adalah bukti bahwa prostitusi Surabaya tak pernah mati. Boleh saja Kremil, Bangunsari, Moroseneng, Jarak dan Dolly ditutup, namun reinkarnasi prostitusi gaya baru bermunculan. Salah satu yang terkini adalah prostutusi E-Dolly atau Dolly Drive Thru yang menawarkan layanan PSK melalui transaksi makelar yang eksekusinya di hotel atau penginapan short time.

Sebelum adanya penutupan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya, Dolly merupakan sebuah kawasan wisata malam yang menyuguhkan jajanan bagi para pria pemburu kenikmatan sesaat. Namun sekarang, Dolly ibarat kota mati, pasca penutupan, para penghuni wisma di Dolly dipulangkan ke daerah masing-masing.

Kawasan Lokalisasi Dolly dan Jarak yang resmi ditutup oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pada 18 Juni 2014. Nampaknya malah membikin runyam. Bagaimana tidak, para PSK yang dulunya cari pelanggan di wisma yang telah disediakan, sekarang malah semburat (berpencar) kemana-mana. Sehingga penyebaran penyakit kelamin dan virus HIV-Aids semakin tidak terkontrol karena kurangnya pengawasan. Padahal, penutupan lokalisasi ini dulunya hendak dirubah menjadi kawasan kampung sehat dan central home industri.

Saat LINDO mengunjungi kawasan yang legendaris ini, memang sekilas nampak sepi. Wisma-wisma yang dulu setiap malam memajang wanita harapan. Kini wisma-wisma itu tertutup dan gelap. Pintu-pintu wisma tertutup rapat, jendela kaca yang biasanya digunakan sebagai “Galery” pun ditutup selambu hitam pekat. Tidak terdengar lagi hingar bingar lagu-lagu house music atau dangdut koplo. Apalagi melihat, wanita penjaja kenikmatan cinta satu malam yang biasanya mondar-mandir di depan wisma.

Sungguh, kawasan syahwat pria hidung belang saat itu alis Dolly benar-benar seperti kota mati. Hanya cahaya dari sorotan lampu dari warung kopi dan pedagang nasi yang menghiasi sepanjang jalan kampong ini. Sehingga dapat membantu menerangi jalan sepanjang gang Dolly. Nah, pada malam Minggu ini sekitar pukul 20.30 WIB. LINDO pun datang ke kawasan sahwat ini untuk melihat perkembangan lokalisasi Dolly yang terbaru. Konon, meskipun kawasan cinta satu malam itu sudah di tutup. Nyatanya masih ada para mucikari dan PSK yang melayani tamu.

Malam yang dingin saat itu. LINDO bersama beberap mucikari saling berbicara dan tukar informasi. Sambil mengawasi situasi, tiba-tiba ada suara yang membisikan menawarkan para wanita malam.

“Mas wedokane jek ono tah mas (mas perempuannya masih ada mas),” seru seorang laki-laki bertopi yang sedang nongkrong di warung kopi depan sebuah wisma. Bahkan lelaki tersebut sempat menghampiri LINDO dan berbicara menggunakan logat khas Suroboyoan “Mas golek wedokan tah mas? Akeh sing anyar mas (mas cari perempuan? Banyak yang baru mas).” LINDO menjawab seakan tidak percaya “Loh jarene wes ditutup bos? Ah ono-ono ae sampean (loh katanya udah tutup bos? Ada ada saja),” balasnya.

Tiba-tiba saja lelaki tambun yang enggan menyebutkan nama tersebut mengeluarkan sebuah ponsel dengan layar 7 inchi. Kemudian menyodorkan sejumlah foto-foto perempuan yang memang cukup cantik dengan balutan pakaian yang cukup menggoda setiap pria. “Foto opo iki pak? Paling foto teko facebook? (foto apa ini pak? Paling juga foto facebook)” ucap LINDO. “loh iki fotone arek-arek sing kerjo nok kene mas (loh ini foto anak-anak yang kerja di sini mas).” Jawab lelaki tersebut setengah berseru. Rupanya lelaki yang sedari tadi duduk di warung kopi adalah seorang mucikari yang bertugas mencarikan pelanggan untuk para PSK.

Ya, ternyata para lelaki yang ada di sepanjang gang tersebut merupakan para makelar, namun tidak begitu mencolok seperti saat belum ada penutupan. Mereka (mucikari) membaur dengan orang-orang yang tengah menikmati kopi pahit di warung, Ada juga yang duduk-duduk di atas becak, dan ada pula yang duduk di depan rumah di sisi gelap. Namun, mata mereka tetap mengawasi siapa saja yang melintas, lalu menyapa dengan menawarkan jasa antar cewek siap pakai atau dikenal dengan sebutan Cak Anjelo (Antar Jemput Lonte).

Makin Spesial Makin Mahal
Rupanya harga untuk booking cewek cukup bervariasi, tergantung umur dan tingkat kecantikan sang cewek namun juga tergantung deal-dealan atau hasil tawar menawar dengan si makelar. Ada lebih dari 10 foto, yang rata-rata ceweknya berusia antara 20 hingga 30-an. Harganya-pun cukup bervariasi. Ada cewek seharga standar, Rp 250 ribu. Ada yang dibandrol Rp 400 ribu, ada pula yang bertarif Rp 500 sampai 700 ribu rupiah. Semakin mahal tarifnya semakin berkelas juga ceweknya, yang pasti siap membuat si lelaki berkeringat dan berteriak puas.

Satu hal lagi yang diterapkan dalam tata cara menggunakan jasa PSK, yakni para konsumem tidak bisa serta-merta memilih hotel sendiri. Hanya pelanggan tetap yang boleh menentukan hotel pilihan.

 “Hotelnya sih terserah sampean. Cuma tergantung ceweknya. Biasanya dia punya hotel rekomendasi sendiri,” ungkapnya.

Kalau harga sudah cocok, maka pelanggan akan diberikan sebuah alamat hotel yang telah ditentukan oleh si cewek dengan alasan keamanan dan kenyamanan. Bahkan kalau beruntung pelanggan akan diberikan nomor telfon si makelar, sehingga bisa pesan langsung diantar. Jadi tidak usah repot-repot untuk datang ke Lokalisasi lagi. Selain nomor telfon juga akan diberikan sebuah alamat facebook dan twitter untuk melakukan pemesanan secara online.

Rupanya hampir mirip dengan layanan Drive Thru, pelanggan tidak perlu mengambil sendiri pesanannya karena aka nada yang bertugas untuk mengantarkan ketempat tujuan yakni si Anjelo. Karena itulah tarif untuk sekali bookingcukup melonjak jauh. Karena selain untuk bagi hasil dengan makelar yang biasanya mendapat upah antara 50 hingga 100 ribu dari setiap pelanggan yang diperoleh, juga untuk membayar biaya hotel yang bakal ditempati untuk melakukan servis syahwat.

Kata lelaki berperut tambun tersebut, sekali booking out jarak waktu servis cukup lama yakni 3 jam. Namun dari pengalaman pelanggan yang pernah ditemui Mantra, jarak waktu 3 jam yang ditentukan ternyata bukan berarti bisa main berkali-kali dengan bayar sekali. Karena tarif awal yang telah dibayarkan Cuma untuk satu kali main. “Kalau ingin nambah ya bayar lagi, tergantung cara lobi dengan si cewek” ungkap seorang pelanggan yang tidak mau namanya disebutkan.

Seperti inilah gambaran suasana di Dolly pasca penutupan praktik prostitusi semakin melebar dengan berbagai model. Yang paling banyak terjadi, praktik prostitusi terselubung dilakoni dengan sistem online. Nampaknya Tri Rismaharini benar-benar bisa tertawa puas atas kesuksesannya mengalih fungsikan wisma esek-esek menjadi lebih modern dengan system transaksi baru yang dikenal dengan sebutan “E-Dolly”.

Ya, hanya bersenjatakan Smartphone dan internet, para penyuka jasa esek-esek masih tetap bisa merasakan layanan cinta sesaat khas Dolly-Jarak. Selain lewat Facebook,  sistem pemasaran juga menggunakan fasilitas BlackBerry Messenger (BBM).  (EKO S)

SUPRIYANTO