Minggu, 19 November 2017 | 17:28:44 WIB

Imparsial Harap Presiden Jokowi Memilih Panglima TNI Minim Dari Politis

Senin, 13 November 2017 | 01:00 WIB
  • Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Wapres Jusuf Kalla (kanan) berjabat tangan dengan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (kiri) usai pelantikannya di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (8/7). Jenderal TNI Gatot Nurmatnyo menggantikan Panglima TNI sebelumnya Jenderal TNI Moeldoko yang memasuki masa pensiun. (FOTO: ANT/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Presiden Joko Widodo diminta hati-hati dalam memilih Panglima TNI berikutnya. Jokowi diminta memilih Panglima TNI yang tak melakukan akrobat politik seperti Jenderal Gatot Nurmantyo.

"Pengalaman dari panglima yang sekarang, sosok panglima yang sering melakukan akrobat-akrobat politik di luar di ranah publik melakukan langkah-langkah yang bersifat politis dan justru itu akan menjadi persoalan," kata Wakil Direktur Imparsial Ghufron Mabruri di kantornya, Jakarta, Minggu (12/11).

Ghufron berharap, manuver politik yang kerap dilakukan Gatot menjadi catatan penting bagi Jokowi dalam menunjuk Panglima TNI berikutnya. Imparsial berharap, pemegang komando tertinggi TNI memiliki integritas, misi, dan visi yang kuat dalam konteks pertahanan.

Apalagi, Indonesia akan menghadapi pesta demokrasi seperti Pilkada Serentak 2018. Belum lagi, pemilihan presiden dan pemilihan legislatif yang akan dilakukan serentak pada tahun berikutnya.

"Tentu saja kita masyarakat butuh figur panglima TNI yang tegas yang punya komitmen untuk menjaga netralitas di tengah dinamika politik," tambah Ghufron.

Selain itu, sosok pimpinan TNI yang dibutuhkan di era sekarang bukan hanya berkomitmen pada pembangunan kekuatan pertahanan yang modern. Tapi juga memiliki komitmen pada reformasi keamanan sesuai mandat reformasi 1998.

"Ini harus menjadi catatan dalam konteks pergantian panglima TNI ke depan oleh presiden Jokowi," pungkas dia.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo akan memasuki masa pensiun pada awal tahun depan. Masa jabatan Gatot diketahui berakhir pada Maret 2018. (MTVN)

AHAMD DAILANGI