Jumat, 19 Juli 2019 | 20:05:28 WIB

Menhub: Desain Final Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Maret

Jum'at, 8 Desember 2017 | 18:22 WIB
  • Menhub Budi Karya Sumadi melakukan uji coba Kereta Bandara Soekarno Hatta. (FOTO: KOMPAS/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan desain final studi kelaikan proyek revitalisasi jalur kereta api Utara Jawa atau Jakarta-Surabaya akan selesai Maret 2018.

"(Kereta) Jakarta-Surabaya finalnya Maret. Final desain semuanya, kita pilih apa," katanya seusai rapat koordinasi di Kemenko Kemaritiman Jakarta, Jumat (8/12).

Budi mengatakan keputusan desain akhir mengenai proyek tersebut mundur dari target awal yang sedianya selesai November lalu. Alasannya, pemerintah ingin mempertimbangkan azas kehati-hatian dalam mengambil keputusan proyek bernilai triliunan rupiah itu.

"Mau cepat tapi mahal? Mau cepat tapi tidak optimal? Ini kan uang puluhan triliun, jadi kita harus hati-hati jangan sampai kita memutuskan, jangan sampai kita mengambil justifikasi yang belum maksimal," katanya.

Mantan Direktur Utama Angkasa Pura II itu mengatakan pemerintah ingin mencari satu opsi yang paling optimal untuk proyek tersebut.

Salah satu yang jadi sorotan adalah modernisasi kereta api dengan menggunakan "standard gauge" (lebar jalur kereta api standar) dari yang saat ini "narrow gauge" (lebar sepur sempit).

Keputusan menggunakan desain "gauge" itu pulalah yang nantinya juga akan membedakan nilai investasi proyek.

"Tergantung mau pakai apa. Mau pakai `narrow gauge` atau `standard gauge`, kita lagi akan meneliti. Karena di dunia ini kan yang pakai `narrow` hanya beberapa negara. Sekarang sarana makin mahal karena dia ekslusif," katanya menambahkan "standard gauge" berharga Rp30 triliun lebih mahal.

Ada pun jalur kereta yang akan dipilih dalam proyek tersebut, lanjut Budi, adalah jalur eksisting yang selama ini dilalui seperti Brebes, Tegal, Pekalongan, Semarang dengan rel tambahan yang tidak mengganggu lalu lintas kereta api jarak jauh dan logistik.

"Jalur eksisting, tapi teknologi yang akan kita pikirkan. Mau pakai `narrow gauge` atau `standard gauge`," katanya.

Budi mengatakan, dengan ditambahnya waktu hingga Maret nanti, diharapkan akan ada tambahan konsultasi dengan ahli agar ada kesesuaian estimasi investasi.

Hingga Maret nanti pula, pemerintah Indonesia melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) akan mengsinkronisasi laporan mengenai studi kelayakan dengan Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA).

"Kita tambah-tambah `expert` (ahli) supaya harganya lebih murah," pungkasnya. (ANT)

SUPRIYANTO