Minggu, 23 September 2018 | 23:36:55 WIB

Menuju Pilkada Jatim 2018, Unair Selenggarakan Diskusi Publik

Senin, 26 Februari 2018 | 12:00 WIB
  • (FOTO : UNAIR/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Tahun 2018 merupakan tahun terselenggaranya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di Indonesia. Guna meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya sikap dan peran pemilih, banyak dilakukan kegiatan-kegiatan yang sehubungan dengan hal tersebut.

Untuk itu, Universitas Airlangga (Unair) melalui Departemen Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, menyelenggarakan Diskusi Publik yang bertema "Menjadi pemilih yang cerdas dan berintegritas menuju pesta demokrasi Jawa Timur 2018" Juma't (23/2/18) di Aula Sutandyo Gedung C FISIP Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur (Jatim), Jum’at (23/2).

Kegiatan tersebut diselenggarakan untuk umum, baik kalangan muda maupun tua, dari yang sudah memasuki usia pemilih maupun belum. Tujuan utama dari diskusi publik ini ialah mengingatkan kepada seluruh masyarakat khususnya para pemilih pada Pilkada 2018 di Jatim agar menjadi pemilih yang cerdas dan berintegritas. 

"Melihat fenomena-fenomena politik yang ada di masyarakat menjelang pemilihan umum, pastinya ada respon yang positif dan negatif terkait sikap pemilih dalam memilih, maka kami mengangkat tema tersebut karena sangat menarik dan sangat penting untuk didiskusikan serta dicari solusi atas permasalahanya," kata Ketua Penyelenggara sekaligus Mahasiswa S1 Ilmu Politik Unair Muhammad Lazuardi, saat memberikan sambutan lalu membuka acara tersebut.

Diskusi publik ini dihadiri sekitar 100 peserta dengan pembicara, antara lain Nur Syamsi, S. Pd selaku Ketua Komisi Pemilihan Umum Daerag (KPUD) Surabaya, Hadi Margo Sambodo selaku Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Surabaya, Fahrul Muzaqqi selaku Dosen Ilmu Politik FISIP Unair serta dari elemen mahasiswa Unair Miftachul Ulum . 

"Kata kunci dalam diskusi publik kali ini adalah Pemilih, Integritas, Demokrasi dan Cerdas. Pemilih yang cerdas harus bisa mengidentifikasi calon, program pasangan calon dan apakah program tersebut bisa menampung aspirasi masyarakat. Dengan pertimbangan itu maka pemilih bisa menggunakan hak suara/pilihnya untuk Pilkada 2018," terang Ketua KPUD Kota Surabaya Nursyamsi.

Pemilu yang baik lanjutnya, akan terlaksana jika pemilih cerdas dan berintegritas, pasangan calon berintegritas dan penyelenggara pemilu berintegritas. Menjadi pemilih yang cerdas tentunya harus turun ke lapangan untuk mengetahui proses tahapan visi misi pasangan calon tersebut. Pemilih juga harus detail dalam membaca visi misi lalu memahami visi misi tersebut akan membawa Jatim seperti apa selama mereka menjabat kedepannya. 

Sementara itu Ketua Panwaslu Surabaya Hadi Margo Sambodo menjelaskan, banyak tentang bagaimana Panwaslu menjalankan tugasnya yakni mengawasi pelaksanaan Pemilu serta permasalahan yang biasa terjadi pada saat Pemilu.
"Pengawasan partisipatif badan pengawasan pemilu tentunya, tidak melakukan keberpihakkan, tujuannya untuk meningkatkan partisipatif politik dan menciptakan situasi yang kondusif. Jika pemilu dilaksanakan tanpa pengawasan tentunya bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti hilangnya hak pilih, politik uang dan terjadi pelanggaran yang merugikan," ungkapnya.

Menjawab pertanyaan apa fungsi Panwaslu jika masih banyak pelanggaran terjadi, Hadi Margo Sambodo mengatakan, lembaga pengawasan pemilu hanya melakukan tupoksi.

Menurutnya, lembaga pengawasan sangat berupaya agar tidak terjadi pelanggaran karena Bawaslu maupun Panwaslu menerpakan motto “bersama rakyat awasi pemilu, bersama Bawaslu tegakkan keadilan pemilu”.

Dosen Ilmu Politik UNAIR dan Miftachul Ulum Fahrul Muzaqqi juga ikut berbicara dengan sudut pandang akademik dan peran mahasiswa era milenial. Diskusi pun terlihat hidup sebab banyak audience yang terlibat aktif bertanya kepada pembicara.

Fahrul mengatakan, perilaku memilih secara garis besar ada tiga pendekatan yaitu pendekatan psikologis, pendekatan sosiologis dan pendekatan rasional. Pendekatan psikologis seperti pertimbangan ideologi dan simbol-simbol yang dinilai bermakna bagi pemilih. 

"Lalu, pendekatan sosiologis seperti menggunakan hak suaranya dengan memilih pasangan calon karena situasi lingkungan sekitarnya dan yang terakhir merupakan pendekatan rasional. Pendekatan ini biasanya untuk para pemilih pemula atau generasi milenial. Pendekatan ini terjadi karena pertimbangan yang rasional yaitu antara lain, material atau program," jelas Fahrul.

Diskusi ini diakhir dengan penampilan musik dari Mahasiswa Ilmu Politik Unair sebagai hiburan. (ARMAN R)