Senin, 20 Agustus 2018 | 06:08:55 WIB

Kembali, Sidang Lanjutan Ijazah Palsu Masih Pada Keterangan Saksi

Jum'at, 30 Maret 2018 | 15:40 WIB
  • SIDANG KELANJUTA STT SETIA TERKAIT IJAZA PALSU MASIH DIMINTAI KETERANGAN SAKSI SAKSI OLEH MAJELIS HAKIM. (FOTO: AHMAD/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Sidang lanjutan terkait ijazah palsu STT Setia di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Timur) masih seputar mendengar  keterangan saksi-saksi oleh majelis hakim.

Sidang itu dipimpin oleh Hakim Ketua Simbolon SH, dan dibantu dua Hakim Anggota pada Selasa (28/3) siang di Ruang sidang utama Pengadilan Negeri  Jakarta Timur.

Hakim ketua membuka persidangan dengan didepan para pengunjung sidang saat itu pengunjung sangat tenang untuk mengikuti jalannya persidangan terkait pemalsuan ijazah palsu dari STT Setia.

Kuasa hukum terdakwa Asnawi SH, dan rekannya menghadirkan dua orang saksi yaitu Seni J Manpe SH, saksi kedua Bayu Priyadi Kusumo. Dalam sidang itu, hakim ketua menanyakan kepada kedua saksi tentang kesaksian mereka yang mengetahui permasalahan di pendidikan di STT Setia.

Kedua saksi memberikan keterangan yang sebenarnya terkait pelaksanaan pendidikan di STT Setia yang mereka ketahui bahkan dan mereka juga mengalami saat itu, karena kedua saksi ini adalah Alumni Mahasiswa dari STT Setia tegas.

Ketika di tanya anggota hakim lainnya soal ihwal kejadian itu, para saksi hanya menjelaskan program yang ada di STT Setia hanya dua program yaitu, program studi agama Kristen dan program studi kependetaan.

Dalam keterangannya, kedua saksi menjelaskan bahwa mereka merasa aneh ketika mendengar STT Setia bisa mengeluarkan ijazah selain dua program studi tersebut.

Padahal menurut saksi yang selama mereka alami pendidikan yang benar itu adalah, semua peraturan atau pun ijazah yang seharusnya di keluarkan oleh Kementrian terkait bukan dari STT Setia atau yang yang terdakwa sebut internal.

Masih menurut mereka kesetaraan pendidikan dan penyeragaman pendidikan di Indonesia hanya dua yaitu Informal dan Nonformal. Kedua saksi juga perna terlibat menjabat posisi struktural di STT Setia pada tahun 2010, sedangkan saksi pertama pernah menjabat sebagai Direktur Pendidikan Umum di STT Setia pada tahun 2010.

Dalam penjelasan itu, saksi mengakui bahwa mereka tidak pernah di beri amanat untuk menanda tangani ijazah Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Menurut keterangan saksi Seni Manape, ijazah PGSD ini di keluarkan hanya untuk di kalangan STT Setia atau disebut dengan internal mereka saja. Ijazah PGSD ini tidak di bisa di gunakan untuk melamar sebagai PNS, ijazah PGSD hanya bisa untuk melamar menjadi guru pembantu atau honor di sekolah-swasta swasta.

Mendengar keterangan itu, para korban sangat kecewa dan merasa terpukul atas kejadian itu. Mereka menganggap bahwa ijazah yang mereka dapatkan ini bisa digunakan untuk mencari pekerjaan.

Atas kejadian ini para korban mengakui bahwa impian mereka saat ini berbuah dengan kekecewaan, oleh sebab itu para korban meminta pada hakim majelis agar terdakwa di hukum yang seadil-adilnya sesuai dengan perbuatan mereka. (AHMAD DAILANGI)