Selasa, 19 Juni 2018 | 09:50:55 WIB

Kuasa Hukum Terdakwa Akui Kliennya Tidak Melanggar Undang-undang Sisdiknas

Sabtu, 31 Maret 2018 | 05:10 WIB
  • Kuasa Hukum kedua terdakwa Tomi Sihotang SH memberikan keterangan pada wartawan seputar pemalsuan ijazah palsu di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Setia di PN Jakarta Timur. (FOTO: AHMAD/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Kuasa Hukum kedua terdakwa Tomi Sihotang SH mengatakan terkait pemalsuan ijazah palsu di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Setia yang dituduhkan itu bertentangan dengan tuntutan jaksa terkait Pendidikan Utama yaitu Sekolah Tinggi Teologia yang didalamnya disebut Proggram Pendidikan (PRODI), dan Teologia yaitu Pendidikan Agama Kristen (PAGK). 

"Saya menyimpulkan dari ke dua saksi tadi tentu kita ketahui dari saksi menjelaskan pendidikan utama disini adalah Sekolah Tinggi Teologia yaitu Proggram Pendidikan (PRODI), sedangkan Teologia adalah Pendidikan Agama Kristen (PAGK). Nah yang di permasalahkan disini adalah Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)," kata Tomi kepada awak media di depan halaman Pengadilan Negeri Jakarta Timur.

Tomi menegaskan program itu tidak berdiri sendiri melainkan bersandar pada PAGK. "Kalau saya pelajari hal itu tidak berdiri sendiri tentu dalam istilah ada yang menempel kepada PAGK. Kenapa mereka buat itu, karena ada kebutuhan khusus, kerena disekolah ini mereka punya sekolah-sekolah di daerah yang tidak ada gurunya. Nah mereka sambil melayani di Gereja juga mengajar di sekolah yang tidak ada guru tadi," tegasnya.

Dalam istila pencantolan mengenai pelajaran itu karena pelajarannya lebih khusus lagi dan tentu hal itu sangat berguna di lapangan. "Kalau kita lihat STT itukan sangat teoritis, belajar Alkitab, belajar Nurani dan sebagainya, kalau PGSD ini hanya keperluan khusus di lapangan dan PGSD ini bukan prodi karena prodi cuma dua. PGSD ini bukan prodi hanya pendompleng aja di dua prodi ini entah dia PAGK atau Teologi," tandasnya.

Menurut dia mahasiswa sendiri mendapat ijazah dari STT bukan dari PGSD. Tomi menjelaskan hal itu seperti orang sedang mengikuti kursus karena dari PGSD. Contoh lain, seperti sertifikat yang mereka dapat bukan ijazah seperti STT.

"Kesimpulannya PGSD ini bukan prodi melainkan ketrampilan yang menjadi prodi. Ya itu tadi hanya dua Sekolah Tinggi Teologi dan Pendidikan Guru Agama Kristen (PAGK)," tuturnya. (AHMAD DAILANGI)