Senin, 22 Oktober 2018 | 06:58:02 WIB

Wakil Ketua MPR: Bubar Tidaknya Indonesia Tergantung Rakyat

Kamis, 12 April 2018 | 22:54 WIB
  • Wakil Ketua MPR RI Mahyudin menjawab pertanyaan wartawan di Balikpapan. (FOTO: SURATKABAR/LINDO)

BALIKPAPAN, LINDO - Wakil Ketua MPR RI Mahyudin mengatakan bubar atau tidaknya Indonesia tergantung pada rakyat negara ini sendiri.

"Oleh karena itu, MPR terus menyosialisasikan Empat Pilar MPR kepada masyarakat agar negara ini tetap utuh," katanya saat menjadi pembicara pada Seminar Motivasi Kami Indonesia yang diikuti mahasiswa dan dosen Universitas Balikpapan di Gedung Kesenian Balikpapan, Kamis (12/4).

Ia pun mengingatkan sejarah Nusantara yang akhirnya dikuasai asing bukan karena kehebatan bangsa asing, tetapi disebabkan tidak ada persatuan bahkan saling menjatuhkan. Hal sama pun terjadi pada awal-awal kemerdekaan.

"Bung Karno bilang jas merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah," kata politikus Partai Golkar asal Kalimantan itu.

Menurut dia ada sejumlah tantangan yang dihadapi bangsa ini agar tetap utuh, baik dari dalam maupun dari luar.

Tantangan dari dalam di antaranya terkait dengan pemahaman agama yang sempit yang berimbas pada sikap mempertentangkan kembali agama dengan Pancasila, eksploitasi agama untuk kepentingan politik, hingga aksi kekerasan.

Tantangan lainnya adalah berkurangnya penghargaan atas kebinekaan dan kemajemukan serta primordialisme yang masih kuat.

Selain itu juga masih terjadi pengabaian kepentingan daerah di satu sisi dan penguatan fanatisme kedaerahan di sisi yang lain.

Sementara tantangan dari luar di antaranya adalah ideologi transnasional dan perang asimetris sebagai dampak dari globalisasi.

Karena itu, ia mengapresiasi gerakan Kami Indonesia yang berkeliling kampus menggelar seminar motivasi untuk menyemangati sekaligus menanamkan nasionalisme kepada mahasiswa.

Ia juga senang dalam beberapa kesempatan MPR bekerja sama menyosialisaikan Empat Pilar MPR, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika kepada kalangan mahasiswa.

Mahyudin melihat metode penyampaian seputar kebangsaan dilakukan sesuai era kekinian dengan bahasa yang sangat akrab oleh anak-anak muda serta memaksimalkan penggunaan jejaring sosial.

"Ketika generasi muda sudah memiliki kesadaran dan dengan kesadaran sendiri antusias menghadiri acara membicarakan solusi permasalahan dan kemajuan bangsa maka kita semua akan berani menatap masa depan Indonesia menjadi lebih baik," katanya. (ANT)