Kamis, 13 Desember 2018 | 18:16:41 WIB

Tambang Emas Gunung Nona dan Gunung Nyong Mulai Timbulkan Masalah

Minggu, 15 April 2018 | 03:51 WIB
  • Inilah kondisi tambang emas yang digarap oleh rakyat. Dua orang warga sedang melihat aktifitas tambang emas rakyat di kawasan Gunung Nona dan kawasan Gunung Nyong di Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, juga mulai menimbulkan masalah pencemaran. (FOTO: IRAWAN/LINDO)

NAMLEA, LINDO - Tokoh Masyarakat Petuanan Kayeli, Ibrahim Wael, mengatakan aktifitas tambang emas rakyat di kawasan Gunung Nona dan kawasan Gunung Nyong juga mulai menimbulkan masalah pencemaran.

Ibrahim juga mengungkapkan masyarakat Desa Wapsalit, Kecamatan Lolongwuba, Kabupaten Namlea kini sudah sangat cemas, karena air sungai Waipamali jika disentuh sangat berbahaya dan dampaknya kulit manusia sangat gatal. Menurutnya warna air disana juga sangat keruh akibat aktifitas tambang di hulu.

"Bukan hanya di Gunung Botak saja yang berdampak pencemaran, tapi tambang di Gunung Nona dan Gunung Nyong juga sudah mencemari lingkungan yang begitu memperhatinkan," kata Ibrahim pada LINDO, Jumat (6/4).

Menurut Ibrahim, Kadis ESDM Maluku, Martha Nanlohy dan Gubernur Said Assagaff di akhir tahun 2015 lalu hanya fokus menutup paksa tambang Gunung Botak, karena hal itu ada kepentingan perusahaan.

"Padahal di tambang yang saya sebutkan di atas ada menggunakan merkuri, CN serta Bahan Beracun Berbahaya (B3) yang mengancam keselamatan manusia," ujarnya.

Karena tidak ada penertibkan, Ibrahim mengakui hingga kini limbah olahan tambang dari warga hanya dibuang sembarangan, terutama ditumpahkan ke sungai Waepamali.

"Ada Warga di Desa Lele Kampung Baru mengaku pada kami bahwa mereka juga mengeluh gatal-gatal saat turun ke rawa-rawa untuk petik sayur kangkung untuk dijual ke pasar," paparnya.

Menurut dia, warga saat ini sudah tidak lagi petik sayur-sayuran untuk dijual, karena selain gatal-gatal, warga juga curigai kangkungnya juga sudah ikut tercemar oleh limbah tambang.

Beberapa waktu lalu pejabat Distan Buru Temot Karyadi, saat rapat dengan DPRD Buru juga mengungkapkan bahwa Sungai Waepamali kini sudah keruh. Sungai yang memasok air ke bendung ini dikhawatirkan juga sudah tercemar limbah mercuri.

Dalam keterangannya, Ibrahim mengakui bahwa dirinya pernah ikut meneliti kondisi air yang mengalir di bendung, masuk ke saluran sekunder dan saluran tersier kemudian air tersebut juga mengalir ke sawah milik warga.

"Saya sempat ambil gambar lokasi itu, dan warna air sangat keruh dan sudah tercemar limbah. Bagaimana dengan nasib pertanian dan sawah beratus ratus hektar di Desa Grandeng dan sekitarnya, apakah sawah petani juga sudah ikut tercemar limbah tersebut," jelasnay.

Untuk itu Ibrahim meminta pada Gubernur Maluku, Bupati dan pihak terkait agar jangn tinggal diam, mereka (para pejabat) setempat harus melakukan penertiban, atau kalau bisa ditutup saja.

"Gubernur, Bupati dan semua pihak jangan terus menutup mata. Jangan hanya meminta warga mengosongkan Gunung Botak, tapi di lokasi lain terus dibiarkan. Semua harus dikosongkan dan ditata dengan baik, lalu biarkan rakyat bekerja dan diawasi tanpa ada penggunaan mercuri dan sebagainya," papar Ibrahim. (IRAWAN)