Rabu, 12 Desember 2018 | 08:55:56 WIB

Lima Pria Paruh Baya di Bekasi Tewas diduga Pasca Mengonsumsi Miras

Jum'at, 20 April 2018 | 19:15 WIB
  • Dokumentasi Korban minuman keras (miras) oplosan mendapat perawatan lanjutan oleh petugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) di RSUD Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (10/4/2018). Hingga saat ini total 103 korban miras oplosan masuk RSUD Cicalengka dengan 29 korban dirawat di IGD, 19 korban rawat inap, 31 korban meninggal dan sisanya telah dibawa pulang oleh keluarganya. (FOTO: ANTARA / LINDO)

Bekasi (ANTARA News) - Sebanyak lima warga lanjut usia di Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, tewas pascamengonsumsi minuman keras oplosan pada Jumat (13/4) di Perumahan Kodau V.

"Abang saya bernama Hermadi (58) bersama empat temannya meninggal dunia setelah mengonsumsi minuman keras di kompleks kami," kata kakak korban Suryadi (52) di Bekasi, Jumat malam.

Hal itu dikatakannya saat ditemui Antara di rumah duka Perumahan Kodau Jalan Agung Blok N 11 RT05 RW02, Kelurahan Jatikeramat, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi.

Sejumlah korban yang diketahui meninggal dunia di antaranya Hermadi (58), Imron (47), Yopi Arnes (50), Herry Bayo (57) dan Alvian (52).?

Korban tercatat sebagai warga RT05 RW02 Perumahan Kodau yang biasa berinteraksi dalam satu temat tongkrongan di Perumahan Kodau.

Menurut dia, korban kerap berkelompok untuk saling berdiskusi di waktu luang di beberapa tempat terpisah.

"Kebetulan di kompleks saya ini ada penjual minuman keras oplosan bernama Untung (55) di Jalan Kalabar Blok J Perumahan Kodau sejak setahun lalu. Tapi dua bulan belakangan muncul pesaingnya," katanya.

Persaingan bisnis tersebut, kata Suryadi, diduga memicu tindakan nekat Untung untuk menambah kadar metanol di minuman keras oplosannya.

Sejak saat itu, kata dia, korban meninggal mulai berjatuhan di Kompleks Kodau.

Korban pertama atas nama Imron meninggal dunia pada Jumat (13/4). Namun keempat korban lainnya justru kembali minum miras oplosan dari Untung pada malam harinya.

"Baru pada Rabu (18/4) tiga korban lainnya tewas yakni Yopi Arnes, Herry Bayo dan Alvian. Baru pada hari ini abang saya meninggal (Hermadi)," katanya.

Dikatakan Suryadi, peristiwa tewasnya Hermadi bermula saat yang bersangkutan tidak sadarkan diri pada Jumat (20/4) pukul 00.30 WIB dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.

"Dokter bilang lambungnya pecah dan menjalar ke organ tubuh lain, sampai akhirnya dia meninggal subuh tadi," katanya.

Insiden tersebut memicu kemarahan keluarga korban yang langsung menggerebek kios enjualan miras oplosan milik Untung dengan dipimpin Suryadi.

"Saya marah abang saya meninggal gara-gara dagangan Untung. Saya panggil polisi sore tadi dan kita gerebek," katanya.

Saat ini Untung bersama sejumlah barang bukti dagangannya sudah disita tim kepolisian dari Polsek Jatiasih.

"Minuman ini dikenal dengan sebutan teh pucuk, karena warnanya coklat campuran madu. Minuman itu dioplos mengunakan metanol, madu dan ciu," katanya.

Sebelumnya diberitakan, dalam dua pekan terakhir tujuh warga di Kecamatan Pondokgede dan Kecamatan Bekasi Selatan Kota Bekasi tewas diduga akibat miras olposan.

Tim kepolisian hingga kini masih menyelidiki penyebab pasti kematian total 12 korban tersebut dengan meneliti jasad korban. (ANT)