Selasa, 23 Oktober 2018 | 19:25:03 WIB

YLKBH Daffa Indonesia Kawal Kasus Pembunuhan Pelajar Di Bogor

Rabu, 25 April 2018 | 18:57 WIB
  • (FOTO : YLKBHDAFFA/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Buntut aksi tawuran antara Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Wiyata dengan SMK Menara Siswa di Bogor, yang lagi-lagi menimbulkan korban. Kali ini menewaskan salah satu siswa SMK Wiyata pada Rabu 18 April 2018 lalu.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, kejadian tersebut berawal saat korban Muhammad Ridwan Ogi Alamsyah hendak pulang bersama temannya Fikri Fahrian Nazib yang mengendarai satu sepeda motor berboncengan, tiba-tiba dihadang oleh kelompok pelajar lain yang mengendarai dua sepeda motor di Jalan Raya Jampang-Parung, Kampung Jambu, Desa Pondok Udik, Kemang, Kabupaten Bogor.

Kedua korban sempat melarikan diri, namun naas keduanya tertangkap dan dikeroyok di tengah jalan, bahkan ada pelaku pengeroyokan yang menggunakan senjata tajam berupa celurit.

Muhammad Ridwan Ogi Alamsyah menderita luka sabetan senjata tajam di dada sebelah kiri serta lebam di kepala dan punggung. Sedangkan temannya Fikri Fahrian Nazib juga terkena sabetan senjata tajam dan mengalami luka serius di kepala.

Keduanya dilarikan ke Rumah Sehat Dompet Dhuafa, Parung, Kabupaten Bogor. Namun naas korban Muhammad Ridwan Ogi Alamsyah menghembuskan nafas terakhir setelah mendapatkan perawatan intensif, sedangkan temannya Fikri Fahrian Nazib sampai saat ini masih menjalani perawatan.

Sylvia Hasanah Thorik SH selaku Ketua YLKBH Daffa Indonesia saat ditemui di The Spring Club Gading Serpong Tangerang bersama tim, menyampaikan bahwa keluarga korban sangat berharap agar kasus ini betul-betul diproses dan pelaku mendapatkan hukuman seberat-beratnya.

Sylvia juga menyampaikan harapannya agar Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor memberikan sanksi kepada SMK Menara Siswa, bila perlu dicabut izinnya.

“Kejadian seperti ini sudah dua kali memakan korban jiwa sehingga membuat masyarakat sekitar merasa resah dengan keberadaan siswa-siswa dari SMK Menara Siswa yang kerap kali membuat onar,” ungkap Sylvia Hasanah Thorik, SH.

Menurutnya, ada pembiaran dari pihak sekolah, karena sebenarnya siswa-siswa tersebut merupakan korban ketidakpahamannya terhadap hukum.  Hal tersebut harusnya menjadi tanggung jawab sekolah untuk memberikan pendidikan akhlak dan moral serta penyuluhan hukum sejak dini supaya siswa-siswa tersebut tidak menjadi manusia barbar.

"Kami (tim kuasa hukum) akan mengawal kasus ini sampai selesai agar keluarga korban mendapatkan keadilan. Pelaku yang notabenenya masih dibawah umur, meskipun demikian seharusnya dapat dihukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku karena telah menghilangkan nyawa orang lain," ujar Sylvia.

Terkait YLKBH Daffa Indonesia memungut biaya dalam kasus ini, Sylvia beserta timnya hanya tersenyum. "Cukuplah menjadi pahala untuk kami Insya Allah, karena kami menjalani profesi advokat bukan semata-mata hanya mencari finansial," pungkas Sylvia. (ARMAN R)