Senin, 23 Juli 2018 | 14:57:00 WIB

Tutup Akses Pertambangan, PT Terrarex Siap Dialog Dengan Mahasiswa Soal Amdal

Senin, 18 Juni 2018 | 12:36 WIB
  • Sejumlah mahasiswa dan pemuda Akelamokao melakukan aksi damai di jalan menuju lokasi pertambangan di Desa Akelamokao, Kaecamatan Jailolo Timur, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, Sabtu (17/6). (FOTO: ALDY/LINDO)

HALBAR, LINDO – Manager Pelaksana PT Terrarex Lumina Jaya Bily Kalalo mengatakan pihak perusahaan siap dialog dengan mahasiswa dan pemuda akelamokao untuk membicarakan soal isi Amdal dalam ekspolorasi pertambangan di Desa Akelamokao, Kecamatan, Jailolo Timur, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara.

“Kami ingin tawarkan untuk duduk secara bersama-sama dialog soal aksi yang dilakukan teman-teman mahasiswa di Akelamo. Soal tuntutan mahasiswa, kami ingin ada pembahahasan khusus dengan rekan-rekan mahasiswa soal tuntutan mereka. Kami tak ingin ada gejolak di lokasi tambang,” kata Bily diruang kerjanya di Desa Dumu-dum, Kecamatan Kao Teluk, Kabupaten Halmahera Utara, Sabtu (17/6).

Lebih lanjut Bily menegaskan perusahaan selama ini sudah melakukan presdur yang benar sesuai yang diatur dalam undang-undang pertambangan dan aturan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah.

“Kalau presedur dan aturan sudah kami lakukan dan semua sudah kami jalankan sesuai yang diataur dalam undang-undang pertambangan dan kebijakan pemerintah daerah,” ujar Bily.

Soal tuntutan mahasiswa terkait dengan penutupan ekpolorasi di perusahaannya, Bily mengaku harus membicarakan terlebih dahulu dengan atasannya. Karena dia tidak mau memutuskan secara sepihak soal tuntutan mahasiswa.

“Saya tidak berani memutuskan secara sepihak, harus dibicarakan terlebih dahulu pada atasan saya. Kalau sudah ada pembicaraan dengan atasan saya, tentu akan kami sampaikan langsung pada mahasiswa terkait tuntutan mereka,” tegas Bily.

Terkait dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Amdal) di perusahaannya, Bily menjelaskan perusahaan sudah selesai membahas hal itu, mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten hingga ke tingkat provinsi. Amdal menurutnya sudah selesai dibahas dan sudah menjadi sebuah dokumen negara dan dokumen perusahaan.

“Kalau soal Amdal yang ada di perusahaan kami sudah selesai dalam pembahasan, sekarang ini Amdal itu sudah menjadi sebuah dokumen penting yang dipegang oleh pemerintah dan perusahaan. Sementara soal eksplorasi yang kami lakukan di Desa Akelmaokao, itu sudah termasuk yang di tuangkan didalam dokumen Amdal. Jadi saya rasa kami sudah melakukan prosedur yang benar,” papar Bily.

Namun Bily berharap agar para mahasiswa jangan melakukan aksi-aksi anarkis seperti menutup jalan akses menuju lokasi pertambangan. Jika hal itu dilakukan, maka pihaknya sangat dirugikan, baik itu waktu maupun finansial.

“Kami berharap pada teman-teman mahasiswa Akelamokao agar jangan ada yang melakukan penutupan jalan menuju ke lokasi ekplorasi. Jika hal itu dilakukan, maka kami sangat rugi, ya rugi waktu dan rugi uang,” tandasnya.

Dalam kesempata itu, Bily meminta agar para mahasiswa dan pemuda Akelamokao mau membuka ruang khusus untuk secara bersama-sama dialog membahas tuntutan itu.

“Kami tidak mau ada salah paham soal kegiatan kami yang ada di wilayah ini, kami ingin ada solusi yang terbaik dengan para mahasiwa maupun masyarakat yang ada di Akelamokao. Mari kita sama-sama duduk untuk membicarakan agar bisa dapat solusi yang terbaik,” imbuhnya.

Sebelumnya di lokasi eksplorasi tambang yang ada di Desa Akelamokao, Kecamatan Jailolo Timur, Kabupaten, Halmahera Barat, Maluku Utara, sejumlah mahasiswa dan pemuda Akelamokao melakukan aksi damai untuk menuntut perusaahaan agar mereka segera menutup aktifitas pertambangan di desa itu.

Dalam aksi itu, para mahasiswa mengusir sejumlah pekerja dan menutup jalan menuju lokasi perusahaan PT Terrarex  yang melakukan aktifitas pertambangan eksplorasi di desa Akelamokao. (ALDY)