Rabu, 24 Oktober 2018 | 12:43:08 WIB

TNI AU Terus Ungsikan Pasien dari Palu

Kamis, 4 Oktober 2018 | 13:20 WIB
  • Sejumlah penyintas bencana gempa dan tsunami Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah tiba di Base Ops Pangkalan Udara TNI AL Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (4/10/2018). Sekitar 170 orang penyintas gempa dan tsunami Palu-Donggala asal Jawa Timur tiba menggunakan pesawat C-130 Hercules. (FOTO: ANTARA/LINDO)

PALU, LINDO - Tiap hari  TNI AU mengungsikan ratusan pasien yang tidak bisa ditangani di Palu dan masyarakat yang ingin keluar dari Palu, Sulawesi Tengah. menggunakan penerbangan pesawat transport berat C-130 Hercules datang dan pergi di Bandara SIS Al-Jufri, Palu.

“Kami mengutamakan pasien-pasien yang tidak bisa ditangani di sini. Setelah itu baru masyarakat umum setempat yang ingin diungsikan,” kata Komandan Wing Udara 2 TNI AU, Kolonel Penerbang Meka Yudanta, di landas parkir Bandara SIS Al-Jufri, Kamis (4/10).

Siang itu dia mengawasi proses penyaluran bantuan kemanusiaan dari Jakarta dan Makassar, sekaligus evakuasi pasien dan masyarakat dari Palu ke Makassar, Jakarta, dan lain-lain tujuan. “Masyarakat jangan panik, itu yang paling penting. Tiap hari ada penerbangan namun ada peraturan keselamatan yang harus dipatuhi,” kata dia.

Media ini hadir di sana dalam penerbangan bantuan kemanusiaan menggunakan C-130 Hercules nomor registrasi A-1327 dari Skuadron Udara 31 TNI AU yang lepas landas dari Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Kamis (4/10) pagi.

Di dalam pesawat terbang transport militer itu terdapat berbagai barang bantuan kemanusiaan, di antaranya paket-paket bantuan dari Presiden Jokowi, sepeda motor polisi, Badan Intelijen Negara, dan lain-lain.

Begitu muatan bantuan kemanusiaan itu dibongkar, kelompok-kelompok warga yang akan diungsikan dari Palu berdatangan dikawal personel Korps Pasukan Khas TNI AU. Pasien-pasien yang ditandu, orang-orang tua yang terluka, dan anak-anak yang sakit mendapat urutan pertama untuk dimasukkan ke dalam kabin pesawat transport militer itu.

Setelah itu, barulah warga sipil lain dibariskan dan diabsensi sesuai data manifes yang ada. Satu persatu dari mereka berjalan melalui ramp door pesawat terbang militer buatan Lockheed Martin, Amerika Serikat, itu.  

“Keselamatan penerbangan tidak bisa ditawar-tawar. Misalnya, semula kami mendapat data 100 orang yang terdaftar, kemudian ada yang menambah jumlah rombongannya tanpa sepengetahuan kami. Itulah yang kami cegah,” katanya.

Sementara itu, beberapa C-130 Hercules sedang diparkir dan disiagakan di landas parkir bandara terbesar di Sulawesi Tengah itu. (ANT)