Sabtu, 21 Juli 2018 | 04:57:00 WIB

Ini alasan Kenapa Adopsi Cloud di Indonesia Lamban

Minggu, 31 Januari 2016 | 14:31 WIB
  • Ilustrasi - Layanan komputasi awan (cloud). (FOTO: ANT/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Menurut Country Business Manager Enterprise Solution Group Dell Indonesia, Erwin Yusran, lambatnya pengadopsian cloud di Indonesia karena infrastruktur dan regulasi.

Erwin mengatakan, para penyedia infrastruktur data center saat ini sudah mulai melirik pasar Indonesia, namun bukan untuk penyedia layanan cloud.

"Penyedia infrastruktur data center global sudah mulai tertarik ke Indonesia karena mereka melihat permintaannya memang ada, tapi untuk cloud, kenapa pemain besar cloud tidak mau investasi ke Indonesia mungkin pertimbangannya dilihat dari perspektif bisnis," kata dia di Jakarta, Jumat.

Dia berpendapat, penyedia cloud akan tertarik "menggarap" pasar Indonesia apabila ada peraturan pemerintah yang mengatakan bahwa bisnis di Indonesia harus menggunakan data center di Indonesia. Itu mungkin akan meningkatkan permintaan layanan cloud secara signifikan.

Namun, ketika ada peraturan yang lebih lunak terhadap investasi (kemudahan dalam berinvestasi), dari kaca mata bisnis, Erwin mengatakan, penyedia cloud akan melihat terlebih dahulu apakah bisnis tersebut terukur atau tidak.

Sementara itu, dari regulasi sendiri belum ada peraturan yang benar-benar mengatur hal yang menentukan sebuah bisnis dapat dikatakan terukur atau tidak.

Sedangkan dari segi pengguna, menurut Erwin, mereka akan melihat bisnis mereka terlebih dahulu. "Apakah perlu mengadopsi cloud atau tidak, karena pengadopsian cloud itu soal konsolidasi efisiensi," ujar dia.

Oleh karena itu, Erwin mengatakan, dalam hal infrastruktur (untuk bandwidth), biaya berlangganan internet harus turun agar dilihat sebagai solusi yang ekonomis.

"Infrasturktur dan regulasi akan menentukan adopsi cloud kedepannya," kata Erwin.

"Kalau infraatruktur berkembang duluan, regulasi belum, cloud akan tumbuh tapi bukan untuk industri cloud di Indonesia, mungkin industri cloud di Singapura karena data center ada di sini," sambung dia.

Terlepas dari hal itu, persoalan ini, menurut Erwin tidak akan terpecahkan dalam waktu dekat, baik dari segi regulasi maupun infrastruktur. "Sebagai contoh, dalam bidang telekomunikasi membangun infrastruktur seperti Palapa Ring tidak mungkin setahun langsung jadi, pasti membutuhkan beberapa tahun," ujar Erwin.

"Mudahan-mudahan beberpa tahun kedepan setelah infrastrukturnya ada, regulasinya sudah ada, kami bisa mulai adopsi. Intinya, dari Dell sudah siap," lanjut dia.

Erwin mengatakan, di Singapura dan Malaysia, porsi bisnis Dell signifikan untuk kontribusi dari segmen cloud. "Kami bekerja sama dengan cloud provider internasional. Sebesar apa pertumbuhannya? Lumayan besar untuk kami," pungkas dia.

EDITOR: ALDY M