Selasa, 21 Mei 2019 | 02:03:33 WIB

Kemenhub Tambah Korwil Jembatan Udara

Sabtu, 2 Februari 2019 | 02:07 WIB
  • Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Polana B Pramesti sedang mengkroscek sebuah pesawat di bandara Soetta, di Cingkareng, Tangerang, Banten. (FOTO: IST/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menambah satu Koorinator Wilayah (Korwil) Jembatan Udara, yaitu Korwil Tanah Merah.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Polana B Pramesti dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (1/2/2019), mengatakan program Jembatan Udara telah dilakukan di lima Korwil, yakni Timika, Wamena, Dekai, Masamba dan Tarakan.

"Dan tahun 2019 akan dilanjutkan dengan menambah 1 Korwil yaitu Korwil Tanah Merah," katanya.  

Polana menilai program Jembatan Udara yang sudah dilaksanakan sejak 2017 lalu, ternyata berhasil menurunkan disparitas harga di daerah yang dilayani.  

Program ini telah memberikan dampak signifikan terhadap penurunan harga rata-rata lima bahan pokok sebesar 57,21persen.  "Untuk itu kami akan memperluas cakupan wilayahnya ke daerah terpencil dan daerah tertinggal atau daerah yang belum terlayani oleh moda transportasi lain," katanya.

Polana memaparkan beberapa program yang akan dilakukan Ditjen Perhubungan Udara tahun 2019 ini, yakni tetap berfokus pada peningkatan keselamatan dan keamanan transportasi udara, serta peningkatan kapasitas di beberapa lokasi.

Dalam hal peningkatan kapasitas, lanjut dia, tahun ini akan dilakukan perpanjangan di sembilan lokasi serta pembangunan dan pengembangan terminal di 29 lokasi serta melanjutkan pembangunan lima bandara baru yaitu Bandara Siau,  Bandara Tambelan,  Bandara Muara Teweh, Bandara Buntu Kunik dan Bandara Pantar sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2014-2019.

Menurut Polana, Ditjen Hubud  telah menetapkan beberapa bandara penunjang Kawasan Industri dan Ekonomi khusus di beberapa wilayah Indonesia.

Terdapat tujuh bandara yang ditetapkan untuk peningkatan nilai tambah terkait kawasan Industri yaitu Bandara Kualanamu Deliserdang, Bandara Mutiara Palu, Bandara Haluoleo Kendari, Bandara Bintuni, Bandara Babo, Bandara Sultan Hasanuddin dan Bandara Morowali.

Sedangkan untuk Kawasan Ekonomi Khusus terdapat 6 bandara yaitu Bandara Sangata, Bandara DEO Sorong, Bandara Sam Ratulangi, Bandara Malikussaleh, Bandara Raja H. Fisabilillah dan Bandara S.M. Badaruddin.

Polana juga menetapkan beberapa bandara sebagai penunjang pembangunan daerah afirmasi yang dibagi dalam tiga kategori yaitu aksesibilitas daerah perbatasan di 24 lokasi, aksesibilitas daerah terisolir di 30 lokasi dan aksesibilitas daerah penanganan bencana di 35 lokasi.

Selain itu, Ia juga menambahkan bahwa Ditjen Perhubungan Udara menetapkan beberapa bandara sebagai penunjang destinasi wisata nasional. Untuk pariwisata, Ditjen Hubud pun telah menetapkan beberapa bandara yang menjadi penunjang destinasi wisata yang terbagi dalam tiga kawasan.

Pertama adalah kawasan ekonomi khusus pariwisata yaitu di Bandara Soekarno Hatta dan Bandara Morotai. Kedua,  Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, yaitu Bandara Silangit, Bandara Hanadjoedin, Bandara Sibisa, Bandara Adisucipto, Bandara Djuanda, Bandara Lombok, Bandara Labuan Bajo, Bandara Pongtiku, dan Bandara Matohara. Kawasan ketiga adalah Bandara Dukungan Kemenhub yaitu Bandara Blimbing Sari, Bandara Marinda dan Bandara Wamena.

"Pariwisata merupakan salah satu andalan Pemerintah untuk meningkatkan perekonomian nasional. Untuk itu kami akan senantiasa mendukungnya lewat suatu sistim transportasi udara yang selamat, aman dan nyaman," katanya.  

ANT