Senin, 14 Oktober 2019 | 06:10:10 WIB

Terbukti Korupsi, Advokat Lucas Divonis 7 Tahun Penjara

Kamis, 21 Maret 2019 | 07:30 WIB
  • Sidang vonis untuk advokat Lucas di Pengadilan Tipikor Jakarta. (FOTO: MEDCOM/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Advokat Lucas divonis tujuh tahun penjara dan denda Rp600 juta subsidair enam bulan kurungan. Lucas dinilai terbukti melakukan tindakan merintangi penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Mengadili dan menyatakan terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama melakukan tindakan merintangi penyidikan KPK terhadap Eddy Sindoro," kata Ketua Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Frangki Tambuwun, Rabu, 20 Maret 2019.

Frangki mengatakan, Lucas terbukti melanggar pasal 21 Undang-undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Dalam amar putusan hakim, Lucas terbukti melakukan tindakan merintangi penyidikan KPK terhadap terdakwa kasus suap pada panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Eddy Sindoro. Lucas dianggap sengaja menyarankan Eddy tak kembali ke Indonesia meski sedang dicari lembaga antirasuah.

Lucas juga dinilai terbukti membuat perlintasan keimigrasian Eddy antar negara menjadi tidak terpantau. Hal itu membuat penyidik KPK tidak mengetahui keberadaan Eddy sejak kasusnya bergulir pada 2016.

Lucas juga dianggap menyarankan Eddy melepas kewarganegaraan Indonesia sebagai upaya lepas dari jeratan hukum. Diketahui, Eddy sempat menghilang dan berada di luar negeri selama dua tahun.

Lucas juga menyarankan Eddy membuat paspor palsu salah satu negara di Amerika Latin dengan Nomor RD4936460 atas nama Eddy Handoyo Sindoro. Saran itu diamini Eddy dan meminta Chua Chwee Chye alias Jimmy alias Lie membuat paspor palsu tersebut.

Menggunakan paspor palsu, Eddy berangkat dari Bangkok ke Malaysia melalui Bandara Internasional Kuala Lumpur. Dia akan kembali ke Bangkok pada menggunakan maskapai Thai Airlines. Namun, Eddy ditangkap ketika akan meninggalkan Malaysia oleh petugas Imigrasi Bandara Internasional Kuala Lumpur karena diketahui menggunakan paspor palsu.

Eddy diharuskan membayar denda dan dikeluarkan dari Malaysia ke Indonesia. Ini dikarenakan status Eddy berkewarganegaraan Indonesia. Mengetahui Eddy akan dikembalikan ke Indonesia, Lucas berencana menerbangkan kliennya ke Bangkok. Hal ini dilakukannya untuk menghindari penyidikan KPK.

Lucas meminta bantuan pihak swasta Dina Soraya untuk berkoordinasi dengan petugas Bandara agar ketika Eddy, Chua Chwee Chye alias Jimmy alias Lie dan Michael Sindoro (anak Eddy -Red) mendarat di Bandara Soekarno Hatta, langsung dapat melanjutkan penerbangan keluar negeri tanpa melalui proses pemeriksaan imigrasi. Lucas memberikan sejumlah uang kepada orang-orang yang telah membantu pelarian tersebut.

Hal-hal yang memberatkan hukuman Lucas yaitu tidak mendukung pemerintah dalam upaya pemberantasan korupsi dan tidak berterus terang. Sementara hal-hal yang meringankan hukuman, Lucas belum pernah dihukum dan masih memiliki tanggungan keluarga.

Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (JPU KPK) menyatakan pikir-pikir untuk banding atas putusan terhadap Lucas. Sementara, kuasa hukum Lucas langsung menyatakan banding.

MEDCOM