Rabu, 22 Mei 2019 | 00:12:19 WIB

Kohanudnas Gelar FGD Penggunaan Kekuatan Udara Dalam Konflik India-Pakistan

Kamis, 21 Maret 2019 | 20:47 WIB
  • (FOTO : PENKOHANUDNAS/LINDO)

JAKARTA, LINDO – Kohanudnas (Komando Pertahanan Udara Nasional) mengadakan Forum Group Discussion (FGD) Analisa Penggunaan Kekuatan Udara dalam Konflik India-Pakistan, di Gedung Leo Wattimena, Makohanudnas, Halim Perdanakusuma, Kamis (21/3).

FGD dibuka Panglima Kohanudnas (Pangkohanudnas) Marsda TNI Imran Baidirus, S.E., dihadiri Kaskohanudnas Marsma TNI Arif Mustofa, M.M., juga tiga Pangkosekhanudnas yaitu Pangkosekhanudnas I Marsma TNI Surya Chandra Siahaan, S.IP.,DIPL of MDS, M.Tr (Han), Pangkosekhanudans III Marsma TNI Jhon Amarul, S.AB.,dan Pangkosekhanudnas IV Marsma TNI Mujianto, para pejabat dari Ditanstra Ditjen Strahan Kemhan, Bais TNI, Dispamsan Mabesau dan Markas Koopsau I.

Dalam sambutannya, Pangkohanudnas Marsda TNI Imran Baidirus menyampaikan, Kohanudnas mempunyai tugas pokok melaksanakan operasi Pertahanan Udara (Hanud) secara nasional.

Menurutnya, pelaksanaan tugas tersebut harus senantiasa di up date terhadap peristiwa yang relevan dan terkini yang terjadi di dunia International. Dengan terjadinya peristiwa pertempuran udara antara India dan Pakistan pada  26 Februari 2019 lalu, di Khasmir. Peristiwa tersebut merupakan pelajaran berharga bagi dunia International, termasuk Indonesia pada umumnya dan Kohanudnas pada khususnya untuk menganalisanya dari berbagai aspek.

“Untuk itu, saya harapkan dengan diadakannya FGD ini, para peserta dapat mengetahui berbagai dampak dari penyerangan India ke Pakistan, khususnya pada aspek-aspek pertahanan udara,” harap Marsda TNI Imran Baidirus.

FGD menghadirkan tiga pembicara, meliputi Marsma TNI Adityawarman, S.E., M.M., yang menjabat Direktur Analisa Strategi Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan (Diranstra Ditjen Strahan Kemhan) membawakan makalah, “Analisa Strategi Konflik India-Pakistan“.

Marsma TNI Adityawarman menyampaikan, latar belakang konflik India-Pakistan ada tiga, pertama konflik berkepanjangan yang telah dimulai sejak tahun 1947 karena masalah pembagian wilayah yang timpang, kedua adanya garis genjatan senjata India-Pakistan dan ketiga persaingan teknologi senjata nuklir dan rudal balistik.  

Kolonel Pnb Ridha Hermawan, S.H., yang menjabat Paban Utama C-3, Direktorat “C” Bais TNI, dengan makalah,”Penggunaan Kekuatan Udara Konflik Kasmir“, memaparkan, terdapat empat keadaan khusus yang terjadi pada Bulan Februari dan Maret 2019, sehingga memicu terjadinya konflik India-Pakistan. Selanjutnya dengan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista), strategi, kesiapan logistik juga kesiapan Hanud mereka tunjukkan agar unggul.

Pemapar terakhir Kolonel Pnb Rachmad Syah Lubis yang menjabat Direktur Air Power Seskoau, Bandung yang merupakan alumni Air War Course Pakistan, membawakan makalahnya makalahnya berjudul, “India-Pakistan War : An Air War Analysis”.

Rangkaian FGD yaitu pemaparan materi oleh para pemapar, dilanjutkan diskusi dari para peserta. Diskusi berjalan cukup menarik karena adanya antusias peserta untuk mengetahui duduk permasalahan konflik India Pakistan, khususnya dalam penggunaan kekuatan udara masing-masing. FGD diakhiri dengan pemberian sertifikat dari Pangkohanudnas kepada para pemapar. (ARMAN R)