Senin, 14 Oktober 2019 | 06:10:22 WIB

Penyuap Hakim Tipikor Medan Dihukum 6 Tahun Penjara

Jum'at, 5 April 2019 | 04:19 WIB
  • Eks Dirut PT Erni Putra Terari, Tamin Sukardi divonis 6 tahun penjara karena terbukti menyuap hakim Pengadilan Tipikor Medan. (FOTO: LIP6/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Penyuap hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Mesan Merry Purba, Tamin Sukardi divonis bersalah oleh majelis hakim. Ia dijatuhi hukuman 6 tahun penjara dan denda Rp300 juta subsidair 3 bulan kurungan.

Majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta yang mengadili perkara ini menilai, Tamin telah terbukti menyuap hakim Pengadilan Tipikor Medan sebesar SGD280 ribu atau Rp2,9 miliar. Perbuatan ini dilakukan Tamin bersama Hadi Setiawan.

"Menyatakan terdakwa Tamin Sukardi terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama," kata Ketua Majelis Hakim Rosmina saat membacakan amar putusan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 4 April 2019.

Hakim meyakini Tamin memberikan uang kepada dua hakim, yakni ke Sontan Merauke Sinaga sebesar SGD130 ribu dan dan SGD 150 ribu kepada Merry Purba sebagai hakim ad hoc. Uang itu diberikan melalui panitera pengganti Pengadilan Tipikor Medan, Helpandi.

Perkara ini bermula saat Tamin diadili di Pengadilan Tipikor Medan. Ia selaku terdakwa terkait perkara pengalihan tanah negara/milik PTPN II kepada pihak lain seluas 106 hektare eks HGU PTPN II Tanjung Morawa di Pasar IV Desa Helvetia, Deli Serdang memberikan uang untuk memengaruhi putusan hakim.

Saat itu, Hakim Merry Purba dan Sontan termasuk dalam jajaran majelis hakim. Uang suap itu diberikan agar Tamin diputus bebas dari kasus tersebut.

Tamin terbukti melanggar Pasal 6 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) KUHP.

Sementara itu, Hadi Setiawan divonis 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 3 bulan kurungan. Ia terbukti ikut membantu Tarmin menyuap hakim dan melanggar pasal yang sama dengan Tarmin.

Hakim juga meminta jaksa membuka pemblokiran rekening atas nama Hadi Setiawan. Hakim berpandangan rekening milik Hadi tidak terkait dalam perkara ini.

Sedangkan Helpandi selaku Panitera Pengganti divonis lebih berat. Majelis hakim menjatuhkan hukuman 7 tahun penjara dan denda Rp300 juta subsidair 3 bulan kurungan.

Ia terbukti menerima uang SGD280 ribu dari Tamin. Uang itu kemudian diberikan ke hakim yang memutus perkaranya saat itu.

Hakim meyakini Helpandi terbukti melanggar Pasal 12 huruf a UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

MEDCOM