Selasa, 15 Oktober 2019 | 16:24:44 WIB

Kopri PB PMII Gelar Talkshow Dan Buka Puasa Bersama

Sabtu, 18 Mei 2019 | 14:29 WIB
  • (FOTO : PMII/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Kopri (Korp PMII Putri) Pengurus Besar (PB) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar Talkshow dan Buka Puasa Bersama (Bukber), di Hotel New Idola, Matraman, Jakarta Pusat, Jumat (17/5).

Talkshow ini mengangkat tema 'Perempuan Sebagai Spirit dalam Pendidikan untuk Menjaga Perdamaian', yang dihadiri oleh perempuan bangsa sekaligus aktivis perempuan Indonesia, Luluk Nurhamidah dan Muhtar Said selaku Tenaga Ahli Komisi Pemilu Umum (TA KPU) serta dihadiri sejumlah mahasiswa dan pemuda yang ada di Jakarta.

Aktivis mahasiswa Kopri PB PMII menyerukan agar seluruh masyarakat Indonesia menggaungkan perdamaian pasca Pemilu serentak 17 April 2019 lalu.

Acara ini dibuka oleh Sekretaris Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Putri, Nurma Ningsih. Ia mengatakan, acara ini berasal dari inisiatif beberapa kampus seperti dari kampus Universitas Nahdlatul Ulama (UNU), Universita Paramedina, Universitas Indonesia (UI), Universitas Nasional (Unas) dan beberapa kampus yang lainnya.

Menurut Nurma Ningsih, peran perempuan sebenarnya bisa menjadi kekuatan ampuh untuk menghentikan perselisihan yang terjadi beberapa hari menjelang dan pasca Pemilu ini. Secara jujur Ia mengaatakan, bergesernya pola pikir masyarakat saat ini sebenarnya tak perlu menimbulkan perselisihan masyarakat, terlebih pada kaum perempuan. "Harusnya perempuan ditengah-tengah hal tersebut mampu menjadi spirit dalam pendidikan untuk membangkitkan semangat dan menjaga perdamaian,” ujar Nurma Ningsih.

Ketika terjadi perselisihan dalam masyarakat khususnya perempuan tambahnya, dengan satu sama lain atau kelompok lain dan itu menjadi pemicu hancurnya negara Indonesia, berarti ada yang salah dengan pola pikir perempuan saat ini. 

"Padahal perempuan itu memiliki istilah penting dalam bernegara ini, yaitu perempuan adalah tiangnya negara. Oleh karena itu, untuk saat ini yang diperlukan oleh perempuan Indonesia adalah menyegarkan kembali akan adanya pendidikan terhadap perempuan sebagai spirit dalam menjaga perdamaian negara ini," jelasnya.

Sementara itu, Tenaga Ahli KPU Muhtar Said mengatakan, posisi perempuan saat ini masih dirasa termarginalkan. Ketika termarginalkan perempuan tidak ada lagi di ranah publik. "Contohnya ketika masyarakat disibukkan dengan politik 01 dan 02 tidak ada rumusan nawacita versi PMII yang diciptakan. Beda dengan Muhammadiyah yang sudah punya nawacita walaupun kita belum tahu siapa yang menjadi presiden nantinya,” ujar Muhtar.

Muhtar juga mengajak agar pemuda dan mahasiswa untuk menciptakan "gerakan perdamaian" untuk negeri ini. Sehingga tidak perlu lagi harus turun ke jalan untuk berdemo, membakar ban dan lain sebagainya yang sebenarnya itu merugikan kita sendiri.

Dalam acara yang sama, aktivis perempuan Indonesia, Luluk Nurhamidah menuturkan, kondisi politik saat ini memang sangat tidak mudah untuk kita benahi. Menurutnya, dalam Pemilu ini, yang menang dan diakui, harusnya tidak mempropokasi, mengajak masyarakat untuk berdemo di luar, bahkan menyebarkan hoaks di media sosial. “Picuan itu bisa di ciptakan dari situasi yang berakibat adu mulut, yang tadinya urusan ringan menjadi urusan suku, ras, agama dan lain sebagainya,” terang Luluk.

Luluk mengajak agar perilaku perempuan bisa menjaga perdamaian dengan melibatkan masyarakat tanpa ada bom molotof dan ribut-ribut di media dan demo terus menerus "Perempuan punya kemamuan, yaitu komunikasi lobi dan mediasi yang mengedepankan prinsip perdamaian," katanya. (ARMAN R)