Selasa, 15 Oktober 2019 | 16:27:05 WIB

Dinilai Gagal Total Dalam Pileg 2019, Ketum Dan Sekjen Golkar Harus Mundur

Rabu, 22 Mei 2019 | 05:47 WIB
  • Azis Samual. (FOTO : CORONG/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Tuntutan agar Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar Airlangga Hartarto dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Golkar Lodewijk Freidrich Paulus bertanggung jawab dan mundur dari jabatannya, mengemuka.

Pasalnya, Partai Golkar dinilai gagal mencapai target kursi di Pemilu Legislatif 2019 membuat anggotanya meradang. Menurut, Mantan Ketua Badan Pemenangan Pemilu Golkar Wilayah Timur Azis Samual, tak seharusnya Golkar hanya meraih 85 kursi.

"Target di awal, Golkar harus mencapai 110 kursi di DPR RI. Tapi ini jauh, kami juga hanya duduk di posisi ketiga, ini tak semestinya terjadi, artinya Airlangga sebagai Ketua Umum gagal, sudah sepatutnya bertanggung jawab, dan harus mundur," ujar Azis Samual, di Jakarta, Selasa (21/5).

Menurutnya, Sekjen Lodewijk juga dinilai tak cakap, Ketum dan Sekjen yang harusnya bisa membawa partai ke tujuan, ternyata harus rusak di tengah jalan, akibatnya partai bobrok dan suaranya jauh dari harapan.

Pria yang pernah menjadi Plt Ketua DPD I Golkar Papua tersebut juga mengajak kepada DPD I dan DPD II Golkar di seluruh Indonesia bergerak. Tujuannya, meminta agar Munas Golkar dipercepat karena marwah partai yang besar ini sudah dipermalukan oleh Ketum.

"Golkar harus segera bangkit dan berbenah, karena ini partai sangat terpuruk dibawah nakhoda Ketum dan Sekjen sekarang. Bahkan anggota kami di bawah, minta Munas dipercepat, selambat-lambatnya akhir Juli," jelasnya.

Sesuai hasil rekapitulasi Pemilu 2019  Partai Golkar hanya ada di posisi ketiga dengan raupan 12,31 persen atau setara 17.229.789 suara. "Targetnya 18 persen, ini malah berkurang dan jauh dari target. Sudah jelas gagal total Airlangga dan Sekjennya," tandasnya. Airlangga sendiri awalnya optimistis Golkar bakal bisa menempel dan bersaing dengan PDIP berebut juara Pemilihan Legislatif (Pileg). Apa daya, Golkar di bawah nakhodanya ternyata bersaing dengan Gerindra saja kesulitan sehingga tak bisa menjadi runner up Pileg 2019. 

Jangankan menyamai capaian pada 2014 lalu, untuk mengejar capaian hasil survey saat Setya Novanto memimpin yang diprediksi dapat 16 persen, nyatanya tak mampu dan hanya dapat 12,31 persen.

Sebagai perbandingan jumlah kursi yang didapatkan Golkar pada 2014 lalu mencapai 91 kursi. Namun, pada 2019 yang jumlah total kursi keseluruhan bertambah dari 560 menjadi 575, Golkar hanya dapat 85.

"Logikanya harus bertambah, jumlah kursi nasional saja nambah, ini malah turun. Ketum tak mampu ini artinya," katanya. Jumlah Kursi Golkar di Empat Pemilu Terakhir, yaitu pada 2004 : 127 kursi, 2009 : 105 kursi, 2014 :  91 kursi dan 2019 :  85 kursi. (ARMAN R)