Senin, 16 Juli 2018 | 15:16:15 WIB

Nama Tren Kalijodo, Tempat Prostitusi Murah di Jakarta akan Disikat Ahok

Jum'at, 12 Februari 2016 | 13:57 WIB
  • Ilustrasi - Lokasi Kalijodo pada malam hari. (FOTO: IST/LINDO)

JAKARTA, LINDO  -  Kalijodo boleh tidak sehebat dengan Gang Dolly. Tetapi, inilah salah satu lokasi prostitusi tertua yang masih dibiarkan hidup di Jakarta. Konon tidak lama lagi kondisi Kalijodo akan sama tragisnya dengan Gang Dolly, yang 18 Juni 2014 resmi ditutup oleh Pemerintah Kota Surabaya. Penutupan lokalisasi pelacuran paling kesohor itu selesai tanpa perlawanan.

Ramenya penutupan Kalijodo, sehingga membuat LINDO ingin melihat secara dekat kehidupan warga di sekitar Kalijodo. Dalam tahun terakhir suasana Kalijodo mulai ketar-ketir. Rasa takut kena gusur menyentuh hampir semua penghuni. Tidak hanya para pelacur tetap penghuni rumah bordil tetapi juga para pelacur lepas (free lance). Para pemilik rumah bordil, mucikari, germo, calo, pekerja, pengusaha kafe, pedagang, dan ribuan penghuni rumah di sepanjang kali ikut ketakutan.

Pemprov DKI Jakarta saat ini sedang menyusun payung hukum agar bisa masuk membersihkan Kalijodo. Dari hasil kunjungan media ini, di sana masih ada sekitar 100 bangunan khusus untuk usaha bisnis esek-esek. Sementara di bagian lain yang tidak jauh dari lokasi pelacuran juga ada ratusan rumah. Semua harus siap angkat koper. Tidak ada ampun.

Pemprov DKI Jakarta sudah mulai gencar mempublikasikan rencana penggusuran. Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, setiap ditanya wartawan tentang Kalijodo jawabnya selalu konsisten: “Bersihkan. Jangan ada lagi perempuan (Pekerja Seks Komersial) yang mangkal di sana. Jangan ada bangunan liar.”

Bila Pemprov DKI Jakarta benar-benar serius membersihkan Kalijodo, maka tempat itu akan dijadikan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH). Bahkan ada rumor ingin menyulap tempat maksiat itu menjadi lokasi kegiatan keagamaan, seperti yang telah dilakukan di Kramat Tunggak, Jakarta Utara, dengan dibangun Islamic Centre. Banyaknya bangunan liar di sepanjang pinggir kali mendorong rencana penggusuran. Kalau mungkin secepatnya.

Publikasi rencana penggusuran diterima warga sebagai ancaman yang sangat menakutkan. Dari 10 penghuni lokasi Kalijodo yang ditanyai, semua seragam menyatakan: “Kalau boleh memohon, jangan dulu deh. Kasih longgar dikit, tiga atau lima tahun lagi. Jangan sekarang. Orang di sini kebanyakan menolak. Bisa berdiri dan melawan,” kata seorang pria mengaku perantau asal Kecamatan Rappocini.

Tidak untuk tujuan melebih-lebihkan, tetapi terbukti tarif bermain seks ala Kalijodo merupakan yang termurah sekaligus terbaik di Tanah Air. Tidak percaya? Berikut perbandingannya. Di Kalijodo dengan fasilitas kamar ber-ac, kamar mandi di dalam, tersedia handuk putih kecil baru dan bersih lagi wangi, sabun pembersih, aliran air cukup, kondom gratis, hanya dihargai Rp 130.000 atau paling tinggi Rp 150.000. Durasi “pertarungan” 30 menit dan ada yang menjanjikan 45 menit.

Setiap tamu disuruh meninggalkan kamar 10 menit sebelum habis waktu. Tetapi, hampir 75% pria hidung belang bertahan hanya 20 menit sudah tuntas.

Di tempat lain dengan kondisi sama seperti di sejumlah tempat prostitusi berkedok panti pijat atau sauna, bisa dihargai Rp 250.000 plus tip paling rendah Rp 50.000.

Kalau lokasi prostitusinya berada di ruko-ruko yang menyatu dengan perkantoran dan buka siang hari hingga malam atau di tempat hiburan seperti diskotek, karaoke, music hidup, kedai kopi, dan hotel, bisa dikenai Rp 375.000 plus tip Rp 100.000. Kondom yang seharusnya gratis pun wajib bayar Rp 10.000.

Pekerja Seks Komersial Kalijodo sangat jarang mendapat tip. Hanya para langganan yang mau menyisakan uang tambahan. Tetapi untuk menjadi langganan tidak mudah. Saingan ketat dan membutuhkan pelayanan lebih. Bila mengandalkan wajah atau tubuh bahenol, pasti akan kalah dengan PSK yang berani memberikan servis ekstra. Seks oral salah satu yang paling sering ditawarkan para calo. (Bersambung). (ANISA/FAISAL)

EDITOR: ALDY M