Sabtu, 23 Juni 2018 | 03:34:14 WIB

Kisah Arung Palakka, Anak Bugis, dan Daeng Aziz Jadi “Penguasa” di Kalijodo

Selasa, 16 Februari 2016 | 02:21 WIB
  • Lokasi pemukiman di Kalijodo, Jakarta Utara. (FOTO: SINDO/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Rencana Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, atau yang lebih dikenal dengan nama Ahok, segera menertibkan dan menggusur prostitusi di Kalijodo sudah bulat. Warga melawan dan bahkan sudah dengan tegas menantang Ahok. Siapa warga itu, dia adalah Daeng Aziz yang berada di barisan paling depan yang akan melawan rencana Ahok menertibkan Kali Jodoh.

Yah, dialah Daeng Aziz. Dialah yang saat ini dianggap sebagai “penguasa” Kalijodo. Pria asal Sulawesi Selatan (Sulsel), orang Bugis ini didaulat sebagai pimpinan di Kalijodo dengan kekuatan paling besar.

Awalnya, ada dua kelompok besar di Kalijodo berasal dari kelompok Bugis dan Mandar. Daeng Aziz merupakan tokoh pemimpin kelompok Bugis di Kalijodo. Sementara kelompok Mandar dipimpin Yusman Nur.

Kelompok Yusman Nur memiliki organisasi preman bernama Anak Macan yang berisi para pemuda pengangguran yang bertugas menjaga lapak-lapak judi serta mengamankan “bandot” alias bandar judi.

Meski tak memiliki organisasi serapi kelompok Yusman, namun kelompok Daeng Aziz juga memiliki ratusan pengikut yang bertugas menjaga lapak-lapak judi di kawasan itu. Kabarnya, kekuatan Yusman jauh berada dibawah Daeng Aziz.

Meski berasal dari daerah yang sama, Sulawesi, kedua kelompok ini pernah berkonflik pada 22 Januari 2002 saat Udin yang berasal dari kelompok Bugis Makassar tewas dengan luka disekujur tubuh setelah diparangi oleh Jalal yang merupakan kelompok Mandar.

Kedua kelompok ini kerap bersaing dalam memperebutkan sumber daya kehidupan yaitu perjudian. Lahan-lahan kosong si bantaran Sungai Banjir Kanal mereka dirikan lapak-lapak perjudian.

Kelompok anak-anak Sulawesi ini bahkan pernah membuat ormas Front Pembela Islam (FPI) kocar kacir saat hendak “membersihkan” Kalijodo dari perjuadian dan pelacuran.

Dulunya, menurut Komisaris Besar Krishna Murti dalam bukunya berjudul ‘Geger Kalijodo’, terdapat 5 kelompok penguasa di Kalijodo. Tetapi kini tersisa 2 kelompok saja yang sampai kini masih disegani dan ditakuti oleh warga setempat.

Orang-orang Sulawesi mulai datang ke Kalijodo sejak tahun 1965-an ketika mendadak ada rekrutan besar untuk anak-anak muda Bugis bekerja di Jakarta.

Perekrutan itu dilakukan untuk mempekerjakan anak-anak Bugis di pabrik baja dan bihun yang ada di Kalijodo. Sekitar 500 anak-anak Bugis yang datang ke Jakarta kala itu, dan terus bertambah pada tahun-tahun berikutnya.

Saat mereka datang pertama kali, lokasi Kalijodo bukan di tempat yang sekarang, melainkan berada diseberang lokasi sekarang. Lokasi lama Kalijodo sudah digusur sekitar tahun 2000an saat Megawati menjabat Presiden.

Setelah itu baru pindah ke lokasi Kalijodo sekarang. Saat penggusuran terjadi, para pemilik rumah bordir dan minum-minuman keras membeli rumah-rumah penduduk di seberangnya.

Namun, alam literatur lain disebutkan, jika penguasaan Kalijodo oleh orang Sulawesi, khususnya Suku Bugis, jauh sebelum data Krishna Murti dalam bukunya yang merupakan hasil peneliatian ilmiahnya, sudah mendiami daerah Kalijodo. Lebih tepatnya Muara Angke.

Penguasaan Muara Angke tak lepas dari sejarah Raja Bone Arung Palakka yang melarikan diri ke Batavia (Jakarta) pada masa penjajahan Belanda. Arung Palakka yang bergabung dengan Belanda dan membantu Belanda mengalahkan lawannya di beberapa daerah di Jawa ditempatkan di daerah Muara Angke.

Di situlah pasukan Arung Palakka berkuasa yang merupakan mayoritas orang Bugis. Dalam beberapa literatus disebutkan, pasukan Arung Palakka yang gagah berani membuat mereka diberi penamaan to Angke, yang dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai orang Angke.

Kini, jejak penguasa Bugis di Kalijodo kini perlahan akan tergusur seiring cap negatif yang disematkan yang disusul rencana Ahok melakukan penggusuran. Kini Daeng Aziz tak hanya akan meghadapi Sapol PP Jakarta, tapi juga polisi dan TNI yang mungkin diturunkan. Atau bahkan siap berhadapan dengan kendaraan tempur tank TNI. (POJOKSULSEL)

EDITOR: ARMAN R