Selasa, 17 Juli 2018 | 20:31:51 WIB

Suasana Sepih Disaat Senja Kalijodo bak Kota Mati

Minggu, 21 Februari 2016 | 11:02 WIB
  • Suasana senja di kompleks hiburan malam di kawasan Kalijodo, Jakarta Utara. (FOTO: MI/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Kalijodo akan mengakhiri kisahnya. 'Surga dunia' di pesisir utara Jakarta itu akan menyisakan sebuah legenda. Jejeran rumah bordil tampak tak bernyawa. Gemerlap warna-warni lampu hias juga tak menyala. Pun dengan irama dangdut koplo dan lagu-lagu disko tak jua menggema.

Rencana penggusuran Kawasan Kalijodo oleh Pemprov DKI Jakarta menjadi musabab kawasan itu bak kota mati. Warga tinggal menghitung hari. Sebagian sadar diri, mereka tak berhak hidup di atas tanah milik negara ini.

"Mungkin kita disuruh insaf," ujar Nani, 30, salah seorang warga Kalijodo, Sabtu (20/2).

Nani sibuk mengemasi barang-barang yang mungkin berguna ditempat baru nanti. Dia bergumam sudah 20 tahun menjalani bisnis kos-kosan di Kalijodo. Kamar-kamar itu disewakan khusus untuk "si kupu-kupu malam". Wanita asal Yogyakarta ini berjanji insaf dan tak akan kembali.

"Anak saya yang di Yogja minta saya pulang ke Jawa saja. Mereka enggak mau saya di sini lagi," ungkapnya.

Sang fajar mulai bergerak ke ufuk barat. Azan magrib berkumandang dari sebuah masjid. Beberapa warga Kalijodo tampak bergegas ke langgar. Pemandangan yang sungguh langka. Tak lagi ada suara-suara manja dari mulut wanita-wanita malam yang merayu para lelaki hidung belang. Sekejap, Kalijodo sepi dan gelap.

"Dulu kalau sudah sore, Kalijodo mulai ramai. Semakin malam, tambah ramai lagi," kata Raji, 44, pedagang kelontong.

Raji mengatakan, ketika isu pembongkaran Kalijodo belum mencuat, lahan-lahan parkir di Kalijodo mulai diserbu pengunjung sejak sore hari. Saat itu, Raji yang juga memiliki lapak parkir di depan warungnya, mulai sibuk menata sepeda motor.

"Saya mulai nata parkir sore, akan terus ramai sampai pagi," kisahnya.

Jelang eksekusi, Polda Metro Jaya mendirikan pos penjagaan di beberapa tempat di Kalijodo. Kamera CCTV juga terpasang di tiga titik mengintai aktivitas warga. Kawasan Kalijodo di bawah kendali penuh oleh polisi untuk sembilan hari ke depan.

"Kita akan periksa setiap orang yang masuk. Kita periksa apakah dia warga atau tidak," kata Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol. Tito Karnavian.

Sebelumnya, polisi telah menggelar operasi penyakit masyarakat (Pekat) di Kawasan Kalijodo. Operasi melibatkan ribuan personil gabungan TNI, Polisi dan Satpol PP.

Hasil operasi, polisi mengamankan 33 senjata tajam, 2 palu, 8 linggis, 3 tang, 9 obeng, 1 senapan angin, 436 anak panah, 2 celurit, 9 golok, 1 sangkur, 1 gunting, 1 pahat, 1 kater, 1 tombak, 8 ketapel dan 22 karet ketapel.

Selain itu, polisi juga menangkap 9 orang pemilik kafe, 3 orang positif narkoba, 2 orang kepemilikan senjata tajam dan 3 orang pekerja seks komersial (PSK). Mereka dibawa aparat untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Barang bukti terbesar berasal dari Intan Cafe, milik Daeng Aziz, tokoh masyarakat setempat.

Pemprov DKI Jakarta telah melayangkan surat peringatan pertama (SP1) kepada warga Kalijodo, Kamis 18 Februari. Warga diberi waktu tujuh hari untuk angkat kaki dari rumah mereka. Jika tak diindahkan, maka Pemprov akan mengeluarkan SP2 untuk jangka waktu 3 hari dan SP3 satu hari. Bila masih tidak dipatuhi, maka Pemrov DKI melakukan pemindahan paksa. (MTV)

EDITOR: ALDY M