Rabu, 24 Oktober 2018 | 12:44:25 WIB

Jimly : ICMI Berharap Kasus Penistaan Agama Dapat Diselesaikan Secara Adil

Selasa, 3 Januari 2017 | 22:02 WIB
  • Ketua Umum ICMI Jimly Asshidiqie (tengah) di dampingi pengurus ICMI menggelar jumpa pers di Kantor ICMI, Jakarta Pusat, Selasa (3/1). (FOTO: BAMBANG S/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshidiqie meminta agar kasus penistaan agama yang menyeret Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) segera diselesaikan secara adil.

"ICMI meminta agar kasus penistaan agama agar dapat diselesaikan secara adil," kata Ketua Umum ICMI, Jimly Asshidiqie di Kantor ICMI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Selasa (3/1).

Jimly menuturkan, ‎karena kasus penistaan agama sudah masuk ranah hukum, pihaknya pun mempercayakan kepada aparat yang menanganinya.

Ia yakin bahwa hakim dapat menjalankan tugasnya dalam memutuskan perkara penistaan agama dengan terdakwa Ahok.

"Karena ini sudah masuk ke persidangan, kita percayakan pada proses hukum. Hakim tahu apa yang harus diputuskan," tuturnya.

Saat ini kasus tersebut telah disidangkan dan memasuki agenda mendengarkan keterangan saksi. Jimly memaklumi bahwa ada pro dan kontra dalam menyikapi kasus penistaan agama dengan terdakwa Ahok tersebut.

Menurutnya, mereka yang pro akan bertahan dengan pendapatnya, begitu juga yang kontra akan mempertahankan pemikirannya.

"Kita jangan menganalisis apa yang belum diputus. ‎Pasti ada yang kontra dan ada yang pro," tandasnya.

Dalam kesempatan itu, Jimly Asshiddiqie mengungakapkan, akibat adanya kasus ini masyarakat kini menjadi terpecah-pecah dan pada akhirnya membahayakan keamanan serta stabilitas nasional.

"Kalau selesai pilkada, agak turun suhunya. Tapi yang kita takut, sesudah pilkada, ini masih terpelihara," ujarnya.

Di saat yang sama, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu meminta agar semua pihak mempercayakan kasus ini kepada proses hukum yang tengah berjalan di pengadilan. Terutama kepada integritas hakim dan jaksa.

"Jangan menganilisa sesuatu yang belum diputus. Biarkan perdebatan, pro dan kontra di pengadilan. Kita nggak boleh ikut-ikutan," tegasnya.

Dia meminta agar para cendikiawan membimbing bangsa dengan intelektualitas, bukan membimibing hanya sebatas pilkada. "Kita tidak boleh dukung siapa-siapa. Biarkan permainan ini selesai bulan Februari," pungkas Jimly. (BAMBANG S)

ALDY MADJIT