Kamis, 20 Februari 2020 | 02:55:30 WIB

Koalisi Saudi Hambat Pengiriman Bahan Bakar Pesawat PBB ke Yaman

Rabu, 2 Agustus 2017 | 14:40 WIB
Koalisi Saudi Hambat Pengiriman Bahan Bakar Pesawat PBB ke Yaman

Asap meninggi di aula kota dimana pesawat perang milik Arab Saudi mengenai pemakaman di Sanaa, ibukota Yaman, Minggu (9/10). (FOTO: REUT/LINDO)

YAMAN, LINDO - Koalisi pimpinan Saudi yang berperang di Yaman menghambat pengiriman bahan bakar untuk pesawat-pesawat PBB yang membawa bantuan kemanusiaan ke ibu kota Sanaa yang dikuasai pemberontak, kata seorang pejabat badan dunia itu pada Selasa (1/8).

Auke Lootsma, direktur Program Pembangunan PBB (UNDP), juga melaporkan wabah meningitis di Yaman, memperburuk epidemi kolera dan risiko kelaparan dalam krisis kemanusiaan terburuk yang terjadi di negara itu.

PBB mengoperasikan dua pesawat kemanusiaan ke Sanaa dari Amman dan Djibouti, tapi tidak ada bahan bakar pesawat yang tersedia di ibu kota Yaman untuk memungkinkan pesawat kembali.

"Kami kesulitan mendapat izin dari koalisi dan dari pemerintah Yaman untuk membawa bahan bakar ke Sanaa untuk memfasilitasi penerbangan-penerbangan ini," kata Lootsma kepada wartawan melalui tautan video dari Sanaa.

Ketika ditanya mengapa pengiriman bahan bakar diblokir, Lootsma berkata, "Pertanyaan bagus. Saya tidak punya jawabannya."

Bahan bakar tersebut harus dikirim ke Sanaa dari pelabuhan Aden, yang dikuasai pemerintah Yaman yang didukung Saudi.

Koalisi pimpinan Arab Saudi berulang kali dituduh memblokir bantuan ke Yaman, salah satu negara Arab termiskin di dunia yang kondisinya makin memburuk sejak operasi militer dimulai Maret 2015.

Sistem kesehatan Yaman runtuh selama perang yang menghadapkan pasukan koalisi yang mendukung pemerintahan Yaman yang diakui internasional dengan kelompok Houthi yang didukung Iran.

Pejabat PBB itu menggambarkan situasinya "sangat suram" dengan beberapa kasus meningitis baru dideteksi di Yaman, namun dia tidak menjelaskannya secara rinci.

Upaya-upaya pengiriman bantuan juga terhambat, mengalami penundaan dan penolakan visa oleh pemerintah maupun kelompok yang menguasai Sanaa, katanya.

Lootsma mengatakan "belum melihat akhir" untuk perang yang telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan tujuh juta orang berisiko kelaparan dan lebih dari 400.000 sakit akibat kolera, demikian menurut warta kantor berita AFP. (ANT)

Berita Terkait