Jumat, 10 April 2020 | 08:51:58 WIB

Sofyan: Idrus Marham Ingin dapat Mobil Jenazah

Jum'at, 26 Oktober 2018 | 19:11 WIB
Sofyan: Idrus Marham Ingin dapat Mobil Jenazah

Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir (tengah) bergegas seusai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Selasa (7/8/2018). Sofyan Basir diperiksa penyidik KPK sebagai saksi kasus dugaan suap terkait kontrak kerja sama pembangunan proyek PLTU Riau-1 dengan tersangka Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih dan Johannes Budisutrisno Kotjo yang merupakan pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited. (FOTO: ANTARA/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir mengungkapkan bahwa mantan Menteri Sosial Idrus Marham berniat untuk mendapatkan 30 mobil jenazah.

Hal itu terungkap dalam percakapan telepon antara Sofyan Basir dan mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih pada 2 Juli 2017 yang diputar jaksa penuntut umum (JPU) KPK  di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (25/10).

"Pada detik ke 46 dan 44 Eni mengatakan 'penting juga buat bang Idrus kita' maksudnya apa?" tanya JPU KPK Ronal Worotikan.

"Itu mungkin kaitan dengan mobil-mobil yang banyak itu untuk masjid. Dia (Idrus) minta awalnya dari Bu Eni, minta 30 unit mobil jenazah untuk masjid karena banyak daerah yang harus dibagikan, itu yang diminta untuk bicara dengan Pak Kotjo tapi mungkin," jawab Sofyan.

Sofyan bersaksi untuk pemegang saham Blakgold Natural Resources Ltd Johanes Budisutrisno Kotjo yang didakwa memberikan hadiah atau janji kepada Wakil Ketua Komisi VII DPR dari fraksi Partai Golkar Eni Maulani Saragih dan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Partai Golkar (saat itu) Idrus Marham senilai Rp4,75 miliar terkait pengurusan proyek Independent Power Producer (IPP) Pembangkit Listrik Tenaga Uap Mulut Tambang (PLTU MT RIAU-1).

"Lalu Eni mengatakan 'jadi saya perlu ketemu Pak Sofyan sendiri baru setelah itu saya ajak Pak Kotjo' itu maksudnya apa?" tanya Jaksa Ronald.

"Kalau bicara dengan Pak Idrus, ya Pak Idrus minta untuk mobil jenazah, mungkin ke arah situ," jawab Sofyan.

"Minta 30 mobil ke saksi atau Pak Kotjo?" tanya jaksa Ronald.

"Mungkin ke Pak Kotjo, saya terakhir bicara dengan Pak Iduus terakhir pak kalau bisa lewat CSR (corporate sosial responsibility) saja, kirim surat supaya kita bisa kasih karena kalau kasih langsung tidak mungkin tapi dari perusahaan bisa kasih lewat dana bantuan sosial CSR," jelas Sofyan.

Berikut percakapan Eni dan Sofyan pada 2 Juli 2017

   Eni: Pak aku penting mau ketemu bapak, bisa hari ini jam berapa pak? Halo, halo?
   Sofyan: Di Ujung Pangan
   Eni: Halo
   Sofyan: Yak
   Eni: Kapan balik Pak
   Sofyan: Beso bisa ketemu boleh
   Eni: oh besok ya karena itu ini terkait dengan yang kemarin dan udah selesai gitu ya saya
   Sofyan: haah
   Eni: penting karena
   Sofyan: hooh
   Eni: penting juga buat bang idrus kita, bang idrus ya
   Sofyan: oke oke yak yak
   Eni: jadi saya penting ngomong karena bisa inikan ke Pak Kotjo itu Pak Sofyan sekarang, gitu ya
   Sofyan: Okeh Okeh
   Eni: Karena duit masih banyak. Jadi saya perlu ketemu Pak Sofyan dulu sendiri
   Sofyan: Okeh baik ya
   Eni: baru setelah itu saya ajak Pak Kotjo, gitu Pak
   Sofyan: OK, Okeh baik ya
   Eni: Ya Pak Oke
   Sofyan: Sampai besok ya
   Eni: terima kasih

Sofyan mengaku bahwa Eni lah yang kerap mengatur pertemuan Kotjo dengan dirinya, tapi Sofyan tidak tahu apa yang didapat Eni dari jasanya menghubungkan Sofyan dan Kotjo tersebut.

"Saya tidak tahu bu Eni dapat apa karena berkawan baik saja dengan Pak Kotjo," kata Sofyan.

Sofyan juga membantah menerima keuntungan dari perannya tersebut.

"Beliau-beliau tahu kami, saya selalu bicara penting utamakan PLN saya selalu bicara itu tapi kami tidak diarahkan atau berencana atau untuk diarahkan mengenai 'fee'. Saya akan tolak kalau ada 'fee' itu," tambah Sofyan. (ANT)

 

Berita Terkait