Selasa, 07 Juli 2020 | 03:50:59 WIB

Drone Hybrid VTOL, Alutsista Terbaru Dittopad Pada Latancab TNI AD Kartika Yudha 2019

Kamis, 15 Agustus 2019 | 14:21 WIB
Drone Hybrid VTOL, Alutsista Terbaru Dittopad Pada Latancab TNI AD Kartika Yudha 2019

(FOTO : DISPENAD/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) terbaru milik Direktorat Topografi Angkatan Darat (Dittopad) Drone Hybrid VTOL (Vertical Take Off and Landing) kali pertama dioperasionalkan dalam mendukung Latihan Antar kecabangan (Latancab) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) Kartika Yudha 2019, yang berlangsung mulai 4 hingga 21 Agustus 2019, di daerah latihan Puslatpur Martapura, Sumatera Selatan (Sumsel).

“Topografi merupakan salah satu kecabangan TNI AD yang bertugas menyelenggarakan penyediaan, penyajian, dan dukungan informasi topografi. Informasi topografi tersebut dapat berwujud peta topografi maupun produk topografi lainnya,” kata Komandan Tim Dukungan Topografi Mayor Ctp Edi Nursantosa, S.Si., M.Sc., dalam keterangannya di Puslatpur, Martapura, Sumsel, Rabu (14/8).

Saat ini lanjutnya, TNI AD telah memodernisasi sebagian besar Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) nya termasuk Alutsista kecabangan Topografi, sehingga kemampuan manuver yang diimbangi dengan penginderaan jauh yang modern mampu memberikan informasi medan/topografi secara akurat untuk mempengaruhi jalannya pertempuran, khususnya bagi satuan yang bermanuver.

"Drone Hybrid VTOL ini merupakan jenis Fixed Wing terbaru yang dimiliki Dittopad,  buatan industri dalam negeri dan kali pertama kita operasionalkan dalam Latancab TNI AD Kartika Yudha 2019," ungkap Mayor Ctp Edi Nursantosa.

Hal ini menurutnya sangat penting, mengingat penguasaan medan dalam suatu operasi  sangat mutlak. Oleh karenanya, kebutuhan informasi harus didapat dengan cepat dan akurat guna mendukung Komandan Satuan (Dansat) dalam menentukan perintah operasi selanjutnya.

"Keunggulan Drone Hybrid VTOL ini terletak pada kemudahan take off dan landing secara vertikal dan tidak membutuhkan area landasan yang luas serta dapat diterbangkan dari area hutan dan medan yang bervariasi," jelas Edi.

Drone Hybrid VTOL ini tambahnya, memiliki durasi terbang 50 menit dengan jarak jangkau (jelajah) hingga 45 km. Drone Hybrid VTOL juga dilengkapi dengan kamera udara untuk pemotretan guna pembuatan peta topografi dan video untuk pengintaian medan dan musuh.

"Alutsista ini dapat dimanfaatkan dalam suatu operasi, baik pada tahap persiapan, perencanaan, pelaksanaan, maupun tahap pengakhiran," ujarnya.

Edi menambahkan, dalam  tahap persiapan operasi, Drone Hybrid VTOL ini telah dimanfaatkan oleh Tim Dukungan Topografi untuk pembuatan peta penyiapan daerah latihan atau daerah operasi pertempuran dan ploting rencana kedudukan satuan manuver, Banpur dan Banmin melalui pemotretan udara yang menghasilkan Peta Topografi Rahlat/Rahops.

Dalam tahap tertentu, operasi Drone Hybrid VTOL digunakan pula untuk mengetahui tingkat kerusakan yang diakibatkan pasca pertempuran  melalui pembuatan peta Pengendalian Kerusakan Daerah (Dalsakrah) dengan kamera foto udara dan monitoring Dalsakrah dengan kamera video," ujarnya.  (ARMAN R).

Berita Terkait