Selasa, 10 Desember 2019 | 04:12:55 WIB

Tahun ini Angka Perceraian di Kota Ternate Makin Meningkat

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 13:15 WIB
Tahun ini Angka Perceraian di Kota Ternate Makin Meningkat

Masyarakat sedang mendaftarkan gugatan perceraian di Pengadilan Agama Kelas 1B Kota Ternate, Maluku Utara, Kamis (15/8/2019). (FOTO: ALDY/LINDO)

TERNATE, LINDO - Statistik angka perceraian di Kota Ternate makin tak terbendung. Memasuki bulan kedelapan tahun ini sudah terhitung 800 gugatan cerai talak dan cerai gugat yang adat di Pengadilan Agama Kelas 1B Kota Ternate. Angka ini sangat cukup mengejutkan.

Selain cerai talak dan cerai gugat, juga terdapat 700 permohonan yang ditangani Pengadilan Agama (PA) Kelas 1B Kota Ternate.

”Kalau untuk perkara permohonan ini macam-macam, ada perkara ahli waris dan isbat nikah," kata Wakil Ketua Pengadilan Agama Kelas IB Kota Ternate, Drs Djabir Sasole MH, usai ditemui saat pelaksanaan Upacara 17 Agusutus 2019, dilapangan Ngaralamo, Salero, Ternate, Malut, Sabtu (17/8/2019).

Menurut Djabir angka perceraian di Kota Ternate setiap tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Dari data lima tahun terakhir, tahun 2019 yang paling tertinggi.

“Untuk tahun 2018 gugatan yang diterima 500 dan yang diputuskan 400, untuk tahun sebelumnya gugatan 373 yang diputus 361. Sedangkan masalah yang kita terima itu karena sebagian besar ada orang ketiga dalam rumah tangganya,” jelasnya.

Dia menuturkan gugatan perceraian dibagi dalam dua bagian yakni cerai talak dan cerai gugat. Dikatakannya, dua gugatan tersebut juga memiliki konsekuensi hukum yang berbeda. Cerai talak ada gugatan yang diajukan suami dimana setelah putusan oleh majelis hakim kedua belah pihak bisa rujuk kembali dalam masa idah yakni 100 hari.

Sedangakan angka perceraian untuk pasangan rumah tangga di Kota Ternate, Maluku Utara, dari Januari hingga Agustus 2019 menunjukkan peningkatan dan didominasi oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan kalangan wiraswasta.

"Pernikahan merupakan hal yang sakral yang dilakukan oleh setiap manusia, tetapi selalu berjalan tak sesuai keinginan, karena sering terjadi konflik yang diakhiri dengan perceraian," tandasnya.

Selain itu dia mengatakan jumlah kasus perceraian itu meningkat dan didominasi juga pasangan usia 20-40 tahun yang berasal dari masyarakat umum dan PNS Kota Ternate.

"Untuk tahun ini total kasus perceraian PNS sebanyak 890 perkara. Namun, masih didominasi oleh masyarakat umum," ujar dia.

Djabir mengemukakan kasus gugat cerai di Ternate tersebut lebih banyak diajukan oleh perempuan. Alasan mereka adalah karena suami sudah punya kekasih lain.

Menyangkut kendala yang dihadapi Pengadilan Agama Kota Ternate, dalam menangani perceraian tersebut, menurut Djabir, hampir tidak ada kendala.

Proses pengadilan semua perkara berjalan lancar karena hampir semua PNS yang mengajukan cerai itu sudah ada izin dari pejabat jadi tidak ada kendala apa-apa. Biasanya kalau ada kendala itu karena belum mendapat izin dari pejabat bagi PNS karena kalau belum ada maka ditunda sampai jangka waktu 6 bulan setelah 6 bulan.

"Kalau sudah mendapat izin dilanjutkan perkaranya berdasarkan izin itu tetapi kalau tidak ada izinpun dapat dilanjutkan dengan catatan PNS yang bersangkutan menerima segala resiko akibat tidak adanya izin dari pejabat," paparnya.

ALDY M

Berita Terkait